Rabu, 28 Oktober 2020
Home Story Pengalaman Terbang di Masa Pandemi

Pengalaman Terbang di Masa Pandemi

on

Ada yang pernah ke luar kota lewat jalur udara di masa pandemi ini seperti sekarang ini? Gue pernah. Berhubung gue pernah melakukannya, dalam postingan kali ini, gue ingin menceritakan pengalaman terbang di masa pandemi. Begini ceritanya…

Terbang di tengah pandemi tuh rasanya lumayan ngeri-ngeri sedap. Sebab banyak kemungkinan yang bisa terjadi selama perjalanan. Yang tertular dari sesama penumpang pesawat, enggak sengaja menyentuh benda sudah terpapar virus lah, dan berbagai kemungkinan lainnya yang dapat membuat bulu kuduk merinding jika harus dibayangkan satu persatu.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya di mana gue membagikan pengalaman saat mengikuti rapid test di salah satu rumah sakit swasta di daerah gue. Jadi, pada postingan ini gue tidak akan menceritakan kembali bagaimana alur saat gue mengikuti rapid test. Kalau kalian penasaran bagaimana alur atau rasanya saat di rapid test, kalian bisa membaca postingan gue sebelum ini. Oke? Kalau gitu akan gue lanjutkan ceritanya.

Hal pertama yang gue lakukan tentu saja melengkapi persyaratan penerbangan. Dokumen yang harus gue siapkan yaitu surat pernyataan yang akan diberikan kepada maskapai. Dokumen kedua yaitu Health Alert Card (HAC) atau electronic Health Alert Card (eHAC) yang bisa didapatkan dari website Kementerian Kesehatan atau lewat aplikasi aplikasi eHAC Indonesia dan surat ini wajib banget dipegang oleh setiap penumpang yang ingin bepergian menggunakan jalur udara. Terakhir tentu saja surat hasil rapid atau PCR test.

Khusus tujuan Jakarta, harus menyiapkan CLM (Corona Likehood Metric) yang dapat diakses melalui aplikasi Jaki. Untuk cara pengajuannya tidak akan gue jelaskan di sini karena akan jadi sangat panjang.

Setelah melengkapi semua persyaratan, lalu gue puas-puasin makan. Mumpung masih di kampung gitu, lho. Nanti kalau udah kembali ke Jakarta, gue udah enggak bisa makan brutal seperti ini lagi karena keterbatasan uang untuk membeli makan. Maklum, gue selalu membeli lauk di warteg dekat kos dan karena lauknya beli, harganya tentu sedikit lebih mahal dibanding masak sendiri.

Sebagai langkah penghematan uang makan, rencananya gue akan membawa lauk dari rumah ke Jakarta supaya bisa hemat selama beberapa hari. Lauk yang akan gue bawa tentu saja Rendang Padang buatan nyokap.

Sebagai informasi, rendang asli padang itu bisa bertahan selama beberapa bulan, lho. Dengan catatan rendangnya rutin dipanaskan. Apakah rasanya tetap enak setelah beberapa bulan? Tentu, selama rajin dipanaskan rasanya akan tetap terjaga. Lagipula, gue orangnya cepat bosan sama makanan. Apalagi daging sapi. Jadi, rendang yang gue bawa ke Jakarta tidaklah banyak.

Malam sebelum pulang, gue sudah membuat list barang yang perlu dibeli. Seperti hand sanitizer, sarung tangan plastik dan beberapa minuman vitamin c. Untuk hand sanitizer sendiri, gue rasa akan sangat berguna karena gue akan cukup sering berinteraksi dengan barang atau benda yang ada di area bandara. Entah itu gangang pintu toilet, bangku, dan sebagainya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba

Sabtu, 8 Agustus 2020. Pagi hari itu gue bangun lebih cepat dari biasanya. Pemicunya karena gue ingin olahraga. Buat yang belum tahu, sejak bulan Juli kemarin gue mulai membiasakan diri untuk olahraga di rumah. Ada tiga jenis work out yang jadi fokus utama gue saat ini yaitu, arm work out, leg work out dan abs work out. Ketiga jenis latihan tersebut menjadi prioriotas buat gue. Khususnya bagian kaki dan perut.

Kenapa kaki jadi prioritas? Karena selama ini gue kebanyakan duduk di depan laptop sehingga kaki gue perlu dilatih. Kenapa perut? Alasan gue memilih latihan perut tidak lain karena gue ingin memiliki perut yang ramping seperti dulu. Entah mengapa sejak kuliah, perut gue terlihat cukup buncit. Mungkin karena gue hanya duduk di depan laptop dan jarang olahraga yang menyebabkan perut gue begini. Atas dasar itu, gue ingin fokus pada tiga latihan.

Selesai olahraga, gue lanjut mandi dan sarapan pagi. Tentu saja sarapannya tetap pake rendang dan sayur sebagai pelengkap.

Sarapan udah, mandi juga udah. Waktunya untuk ngecek ulang dokumen yang akan gue bawa. Semua dokumen penting gue simpan ke satu tempat khusus yaitu di dalam amplop rumah sakit tempat gue menjalani cek kesehatan supaya enggak tercecer. Selain dokumen yang sudah gue sebut di atas, gue juga memasukkan KTP ke dalam amplop karena pasti akan sering dicek selama di area bandara.

Tentu bukan cuma dokumen yang perlu dicek ulang, tetapi juga barang-barang pribadi yang ada di dalam tas dan beberapa bahan makanan dari rumah yang akan gue bawa ke Jakarta nanti seperti beras, camilan, makanan instan seperti mie goreng (percaya atau enggak, bumbu mie goreng dari sumatera isinya beda lho dengan bumbu mie goreng dari jawa), minuman instan dan terakhir lauk rendang untuk disantap ketika sudah sampai.

Pada jam 12 siang, ketika semuanya sudah dinyatakan lengkap, gue pun berangkat menuju bandara dengan diantar sama bokap. Karena situasi sedang pandemi dan tidak memungkinkan untuk bersalaman dan berpelukan, jadi, gue hanya bisa salam namaste saat hendak berpamitan dengan bokap dan nyokap. Kami berpisah di depan pintu masuk ruang bandara dan melambaikan tangan dari kejauhan.

Oya, sebelum masuk ke ruang bandara, pertama gue harus nunjukin surat hasil rapid test ke petugas yang ada di loket kesehatan untuk mendapatkan cap pada surat hasil rapid test dan juga semacam gantungan (gue lupa namanya apa) yang akan diberikan khusus ke petugas yang berjaga di pintu masuk sebagai “kartu akses”. Tentu sebelum masuk harus cek suhu tubuh dulu dan ada pemeriksaan kelengkapan dokumen seperti e-ticket, KTP dan surat hasil rapid test yang sudah dicap.

Gue berjalan menuju loket maskapai untuk check-in. Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang. Artinya, gue masih punya satu setengah jam untuk bersantai. Pada masa pandemi, proses check-in ini sedikit berbeda dari biasanya. Sekarang check-innya harus dilakukan secara online melalui dua cara, yaitu web check-in dan check-in melalui aplikasi maskapai. Berhubung gue belum pernah melakukan online check-in, jadi saat proses check-in gue dibantu oleh petugas maskapai yang menjaga di loket.

Setelah memasukkan data ke website maskapai dan menyelesaikan proses check-in, boarding pass akan segera keluar dalam bentuk digital alias e-boarding pass. Gue menujukkan boarding pass digital tersebut kepada petugas sebagai bukti bahwa gue sudah melakukan check-in.

“Ada barang yang mau ditaruh di bagasi, pak?” tanya petugas.

“Ada,” jawab gue. Gue langsung menaruhnya di timbangan.

Timbangan itu menampilkan angka 12 dalam satuan kilogram. Artinya, berat dari kardus atau barang yang gue ini adalah 12kg. Gimana enggak berat, di dalamnya saja ada beras dan beberapa jenis makanan.

Kardus Berisi Makanan
Kardus Berisi Makanan
Sumber gambar: Sumber: Photo by Karolina Grabowska from Pexels

“Ini isinya apa aja, mas? Ada cairan nggak di dalam?” tanya petugas.

“Ini semuanya makanan, mbak. Ada minuman, tapi dalam bentuk kemasan botolan gitu,” jawab gue.

“Kalau gitu boleh dikemas dulu, mas? Soalnya kami tidak mau terjadi kebocoran.”

Sebenarnya gue sedikit kurang setuju dengan permintaan petugas. Tapi daripada gue enggak dibolehkan naik ke pesawat, jadi gue harus mengikuti permintaan tersebut. Gue mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar jasa petugas pengemasan. “Yaudah gapapa, yang penting enggak bocor,” pikir gue.

Sekembalinya dari jasa pengemasan, gue langsung meletakkan barang gue tadi di mesin timbangan. Untungnya saat itu lagi sepi jadi punya gue bisa langsung diproses. Petugas maskapai meminta gue untuk memperlihatkan KTP dan boarding pass digital untuk proses validasi. Setelah melakukan validasi, selanjutnya petugas menempelkan sticker atau label pada barang gue tadi dan juga menempelkan sticker di KTP gue untuk mengambil bagasi di bandara tujuan.

“Udah ya?” tanya gue, memastikan.

“Sudah mas, silakan menuju ruang boarding.”

Setibanya di depan gate menuju boarding room, petugas yang berjaga kembali melakukan pemeriksaan. Gue mengeluarkan dokumen yang ada di dalam amplop seperti KTP dan surat hasil tes kesehatan. Lalu yang tidak kalah pentingnya tentu saja e-boarding pass. “Oke, lanjut” kata petugas yang berjaga. Gue pun meletakkan barang-barang kecil ke wadah yang telah tersedia dan juga tas agar bisa di scan oleh mesin pemindai barang. Setelahnya, gue berjalan melewati mesin pemindai badan.

Aman, mesinnya tidak mengeluarkan suara. Setelah tas dan barang yang gue letakan di wadah berhasil dipindai, lalu gue mengambil barang-barang tersebut dan berjalan ke boarding room untuk memilih tempat duduk. Berhubung gue masih punya waktu satu jam, gue menggunakannya untuk membaca buku melalui aplikasi yang ada di gawai. Selama satu jam ke depan, buku berjudul Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan akan menemani gue menghabiskan waktu di boarding room yang tidak begitu ramai. Mungkin karena situasi sedang pandemi membuat orang-orang takut untuk bepergian ke luar kota, khususnya Jakarta.

Satu jam berlalu, para penumpang di ruang boarding dipersilakan untuk mengantre. Saat itu kebetulan gue mendapat giliran pertama karena mengantre paling depan. Petugas melakukan pengecekan identitas melalui e-boarding dan KTP. Setelah lolos pengecekan, gue berjalan menuju pesawat dan mencari bangku sesuai yang tertera di boarding pass.

Sebagai orang yang amat menyukai pemandangan, mendapat bangku persis di sebelah jendela merupakan sebuah rezeki. Ya, pada penerbangan itu gue mendapat bangku di persis sebelah jendela. Satu hal yang pasti akan terjadi selama perjalanan ini, gue enggak akan tidur karena sibuk melihat pemandangan dari kaca jendela pesawat!

Pesawat yang gue tumpangi pun take off dari landasan pacu, terbang tinggi hingga mencampai ketinggian 30 ribu kaki dari atas permukaan laut. Pemandangan hutan dan lautan yang tampak, kini berganti menjadi pemandangan berwarna putih dan biru. Perjalanan dari kampung gue menuju Jakarta tidak terlampau lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Dengan waktu yang sesingkat itu, amat sayang bila perjalanan ini dihabiskan dengan tidur siang.

Pesawat yang gue tumpangi berhasil mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Sebagai informasi, pertanggal 23 Juli 2020 kemarin, seluruh penerbangan domestik dengan maskapai hijau dipindahkan ke terminal 3. Sebetulnya gue cukup senang ketika mengetahui kabar ini sebab terminal 3 adalah gedung terminal baru dan bangunannya paling bagus dibandingkan dua terminal lainnya. Tapi, satu hal yang gue kurang cocok dari terminal 3, tempatnya terlalu luas.

Tiap turun di terminal 3, keluhan gue selalu sama: capek. Capek karena pintu kedatangan dan tempat pengambilan bagasinya yang cukup jauh. Kalau dihitung-hitung, mungkin butuh 15 – 20 menit jalan kaki dari pintu kedatangan untuk sampai ke tempat pengambilan bagasi. Bagaimana gue bisa tahu? Ya, dari papan penunjuk jalan yang menggantung di langit-langit.

Pengambilan Bagasi
Pengambilan Bagasi
Sumber gambar: Photo by Esther from Pexels

Untungnya, kardus berisi makanan dari nyokap gue taruh di bagasi pesawat. Seandainya gue taruh di kabin, mungkin gue akan cukup kewalahan menenteng barang seberat 12kg itu dari pintu kedatangan sampai di areal penjemputan.

Sebelum masuk ke ruang bagasi, penumpang harus lolos pemeriksaan dokumen. Penjagaannya terdiri dari dua lapis. Pada Lapis pertama, ada dua jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan suhu tubuh dan Health Alert Card. Untuk pengecekan suhu tubuh dilalukan oleh alat bernama Thermal Scanner yang sudah standby lebih dulu di depan petugas yang berjaga. Setelah pengecekan suhu tubuh oleh Thermal Scanner, jalan beberapa langkah lalu petugas akan mengecek Health Alert Card atau e-HAC.

Pada lapis pertama ini, saat mengecek dokumen, petugas tidak akan melakukan kontak langsung dengan penumpang atau dokumen yang dimiliki penumpang. Jadi, petugas hanya melihat apakah penumpang memiliki Health Alert Card atau tidak. Bagi penumpang yang tidak memiliki Health Alert Card atau e-HAC diwajibkan untuk membuat terlebih dahulu dengan cara mengisi data diri pada website atau melalui aplikasi eHAC Indonesia atau melalui website Kementerian Kesehatan. Kalau sudah bikin, tinggal tunjukin buktinya lalu penumpang bisa lanjut ke pemeriksaan tahap dua.

Lalu pada lapis kedua, hanya ada satu jenis pemeriksaan, yaitu pemeriksaan Health Alert Card penumpang. Kali ini, pemeriksaan dilakukan oleh mesin QR Code Scanner. Meski pengecekan dilakukan oleh mesin, tapi tenang saja karena ada petugas yang sudah standby untuk mengawasi dan ikut membantu apabila penumpang mengalami kendala. Bagi penumpang yang QR Codenya sudah berhasil discan, diizinkan untuk mengambil bagasi.

Saat giliran gue tiba, gue langsung mengarahkan QR Code yang terdapat di kartu HAC ke mesin pemindai. Kartu HAC berhasil dipindai dan gue dipersilakan lewat untuk mengambil bagasi. Setelah mengambil bagasi, gue menyebarang ke arah penjemputan angkutan umum. Gue berencana ingin menggunakan bus yang khusus melayani rute bandara dengan mall besar di Jakarta, seperti yang gue naiki saat pulang ke kampung kemarin.

Di lihat dari jadwal perjalanan melalui aplikasi Trafi, sebetulnya gue sudah terlambat 10 menit akibat menunggu bagasi. Mengetahui sudah ketinggalan bus, gue merasa lemas karena artinya gue harus menunggu jadwal bus berikutnya yang baru akan sampai di terminal 3 jam 6 sore. Namun karena situasinya sedang pandemi, gue iseng bertanya kepada petugas yang menjaga loket bus, “Pak, busnya datang jam berapa, ya?”

“Setengah 5 nanti.” jawab petugas.

Gue melirik arloji di tangan kiri, 30 menit lagi, batin gue. “Makasih banyak, pak.”

“Ya, sama-sama.”

Gue mencari tempat yang jauh dari keramaian. Setelah bersusah payah membawa kardus seberat 12kg itu, gue duduk mengistirahatkan kaki. Nafas gue sedikit terengah-engah karena kecapaian berjalan dari pintu kedatangan hingga ke loket angkutan umum. “Rajin olahraga aja bisa kecapaian gini, gimana kalau enggak olahraga,” pikir gue.

Setelah nafas gue kembali teratur, gue berusaha mencerna kembali informasi yang disampaikan oleh petugas yang duduk di loket. Entah gue yang halu karena tadi kecapean atau salah dengar, tapi petugas itu bilang busnya akan tiba 30 menit lagi. Padahal, di aplikasi jelas busnya baru akan sampai jam 6 nanti. Yang jelas, pilihan gue hanya dua ketika itu: minta tolong temen untuk jemput dengan ganti bensin mobilnya atau menunggu busnya datang walau belum jelas kapan sampainya.

Awalnya gue antara percaya dan enggak percaya dengan informasi itu. Namun setelah menunggu selama 30 menit, bus yang ingin gue naiki akhirnya muncul juga. Petugas yang duduk di loket tadi segera meneriakkan tujuan bus tersebut. Setelah memastikan bahwa itu adalah bus yang gue tunggu, gue segera naik dan memilih bangku di baris ke tiga di belakang supir supaya tidak kejauhan saat turun nanti. Sambil menunggu penumpang, supir bus menagih biaya karcis untuk perjalanan tersebut.

Naik Bus Rute Khusus Bandara
Naik bus khusus rute bandara
Sumber: Photo by Kaique Rocha from Pexels

Menurut informasi yang beredar di media sosial, tarif bus akan mengalami penyesuaian selama masa pandemi. Menurut gue enggak masalah, karena kapasitas penumpangnya ikut dibatasi. Lagipula, tarifnya masih lebih murah dibandingkan naik taksi online yang biayanya belum termasuk tarif tol. “Berapa, pak?” tanya gue.

“60 ribu, mas.”

Gue segera merogoh uang tunai dari saku celana belakang dan menyerahkannya kepada supir bus untuk ditukar dengan karcis. Setelah menerima karcis, gue segera menyender ke kursi dan memejamkan mata, Menyiapkan tenaga untuk pekerjaan yang cukup berat: membersihkan kamar kos yang sudah 5 bulan tidak dihuni.

Itu dia cerita pengalaman gue terbang pada masa pandemi. Sungguh, bepergian ke luar kota di masa pandemi itu cukup merepotkan karena banyak persyaratan yang harus dilengkapi. Belum lagi rasa was-was atau parno ketika mengunjungi kota atau wilayah yang masuk dalam zona merah. Jika terdapat pilihan untuk bepergian atau tidak, gue sarankan kalian untuk tetap di rumah dan tidak pergi liburan ke luar kota kalau tidak ingin repot dengan segala persyaratannya.

Tapi jika memang harus bepergian ke luar kota untuk urusan yang cukup mendesak seperti urusan pekerjaan atau urusan keluarga, lengkapi semua persyaratannya biar enggak ada masalah selama di jalan, pake masker dan selalu jaga kebersihan.

Kalau kalian ada pertanyaan atau ingin berbagi pengalaman saat traveling pada masa pandemi, silakan cerita di kolom komentar di bawah ini!

Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

6 KOMENTAR

  1. sejak pandemi ga pernah terbang kemana2, stay di kota tempat tinggal aja, padahal niatnya pengen jalan2.

    jujur sih, ga update ttg protokol penerbangan untuk penumpang, disini artikel ini jelas, berarti banyak hal yang harus disiapkan.

    • Gue juga pengin begitu. Tapi karena khawatir dengan kondisi kos dan barang-barang di dalamnya, jadi ketika ada kesempatan gue langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
      Senang mendengarnya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat ya :)

  2. Sebulan terakhir gue empat kali terbang dari dan ke bandara Soetta, enggak pernah satu kali pun ada pengecekan suhu tubuh. That’s all I can say. Agak aneh tapi yaudahlah, ternyata tidak seketat yang diberitakan, dan kagetnya lagi, pada penerbangan gue yang keempat, enggak ada jaga jarak sama sekali. Duduknya normal aja, bedanya cuma semua orang pake masker.

    • Agak beda, ya. Waktu gue sampai di bandara Soetta pengecekan suhu tubuhnya ada dan pake alat Thermal Scanner. Pengecekannya sekitar 500 meter sebelum masuk area pengambilan bagasi. Bagian itu gue setuju, praktiknya tidak seketat yang diberitakan. Soal jarak di dalam kabin pesawat, gue juga setuju. Bangkunya terisi penuh dan ya, bedanya semua orang pake masker dan ada beberapa orang yang pake masker + face shield sebagai tambahan perlindungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
597FansSuka
651PengikutMengikuti
927PengikutMengikuti

MUST READ