Ceritanya Cukup Sedih

Kudet. Alias kurang update. Merupakan sebuah kalimat yang pantas untuk gue terima dan gue sandang. Pangan dan papan. Eh. Kok jadi sandang pangan dan papan ya? Bodo amat dah.

Uwooohh… Blog ini sudah cukup lama gue tinggalin, gue php-in dan gue biarkan tak terupdate selama 23 hari sejak terakhir kali gue update postingan di tanggal 23 Oktober kemarin. Selama 23 hari itu, gue sesekali gue di hantui oleh rasa malas yang sudah mendarah daging di kalangan para blogger. Malas adalah alasan paling klasik yang sering seorang blogger gunakan ketika ditanya, “kemana aja? Kok blognya nggak di update?”

Hee…

Tapi malas bukanlah alasan utama kenapa gue nggak nulis di blog. Ada sebab lain yang membuat gue tak bisa mengupdate blog sederhana ini dengan kata-kata yang kadang tak berguna dan tak jelas apa maksudnya.

Ceritanya Cukup Sedih. Iya… sedih kalau di ceritain. Tapi gue akan ceritakan bagaimana kronologi dari kurang updatenya aktifitas gue dalam dunia blogging.

Ceritanya cukup panjang sebenarnya. Eh tapi santai. Gue akan membaginya ke dalam beberapa postingan. Kalo mau baca lanjutannya klik di sini.

Oya, sebelum itu, siapin tisu juga. Karena ceritanya mungkin agak sedikit sedih.

Kejadiannya bermula dari tanggal 23 Oktober 2015. Yap, bertepatan dengan postingan terakhir gue di bulan Oktober kemarin. Sore itu, gue lagi mempersiapkan tulisan gue untuk di posting di dalam blog. Bila ingin membaca, tinggal klik disini

Sore itu memang gue lagi bingung-bingungnya. Karena apa? Karena gue di terima dan mendapat beasiswa di Binus berupa potongan uang DP3 sebesar 30%. Setelah gue mempublish cerita gue itu, tiba-tiba hp gue yang sudah cukup usang yang biasa gue gunakan untuk dengerin musik dan sms, berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke hp gue.

Gue yang sore itu memang lagi capek-capeknya tidak segera membuka sms itu. Gue malah tiduran sebentar di kamar. Melepas penat. Karena memang aktifitas gue belakangan itu lagi berat-beratnya. Senin sampai Rabu ada kegiatan LES di sekolah dan baru pulang jam 5 sore. Kamis gue ada kegiatan di luar rumah, yang mana aktifitasnya juga cukup melelahkan.

Jumat gue ada olahraga. Kalau tidak salah hari itu gue main basket sama teman-teman. Sebenarnya gue udah kecapean saat itu. Kaki gue terasa berat. Tapi karena seru, gue nggak sadar kalau tubuh gue sudah memberikan signal bahwa gue harus istirahat.

Pulang sekolah gue langsung idupin Laptop buah nulis. Di tambah dengan beban pikiran yang ada. Menulis memang obat paling majur untuk melepas semua beban yang ada dalam pikiran. Setelah nulis gue merasa pikiran gue plong.

Seusai tiduran, gue langsung melihat pesan yang masuk. Pesan yang masuk barusan ternyata dari teman sekelas gue, Andi. Andi menanyakan apakah gue sudah siap buat latihan malam itu juga?

Oya, sebelumnya gue mau cerita. Beberapa hari sebelumnya, gue sempat cerita dan bertanya-tanya sama Andi, soal ilmu beladiri. Andi sendiri adalah anak Silat, yang ilmunya sudah tidak diragukan lagi. Karena gue nanti mau merantau ke Jakarta, mau tidak mau gue harus bisa melindungi diri gue dari berbagai macam kejahatan yang ada di Ibukota.

Tau sendiri lah, bagaimana kejamnya Ibukota. Berbagaimacam bentuk kejahatan ada di sana. Mulai dari todong-menodong, copet, jambret, begal, pokoknya macam-macam deh. Maka dari itu, sejak tahu kalau Andi anak silat, gue kadang suka tanya-tanya sama dia. Dan pada akhirnya, gue bertekad ingin menjadi murid dia. Belajar ilmu silat. Sebelumnya juga ada teman gue yang namanya Ibang. Dia juga awalnya ingin ikut silat dan berguru sama Andi. Tapi karena alasan kesehatan, Ibang tak mendapat restu dari orang tuanya untuk ikut silat. Jadilah cuman gue sendiri yang belajar silat sama teman gue.

Baca Juga: Kok Kamu Ngegas?

“Waalaikumsalam..
Sudah siap, Ndi. Cuman kaki aku sedang pegal dua-duanya. Kita nanti latihan apa dulu Ndi? Banyak menggunakan kekuatan kaki, gak?”, balas gue.

“Hahaha… Gak usah kepo banget Ja. Ikut aja dulu latihannya, baru tau apa-apa yang digunakan.” balas Andi.

Gue menyanggupi dan ikut latihan malam itu juga.

Sepulang dari latihan, gue nggak sanggup berjalan lagi. Kedua kaki gue sakit. Latihan yang seharusnya dua hingga tiga jam, jadi satu jam karena gue tidak sanggup melanjutkan lagi. Latihannya seru, sih. Banyak hal yang gue dapetin. Mulai dari perlindungan diri, hingga cara memukul yang benar. Tapi sayang, gue tidak sanggup melanjutkan karena pada saat itu kaki gue sudah mulai sakit. Muka gue pucat. Keringat dingin keluar dari tubuh gue. Kepala gue pusing dan juga muncul rasa mual.

source: http://artikelkesehatan99.com/
source: http://artikelkesehatan99.com/

Rasanya gue ingin pingsan. Mungkin kalau saja saat itu gue tetap bersikeras ingin melanjutkan latihan, memaksakan diri, gue benar-benar pingsan saat itu juga.

Gue beruntung karena mendapati guru silat seperti Andi. Dia mengerti, tiap kali gue lelah, dia memperbolehkan gue untuk beristirahat dan minum sejenak.

Tapi sayang, gue mengabaikan alarm tubuh gue. Begini akibatnya. Pada saat ingin pulang, gue tidak sanggup berjalan lagi. Bahkan, pada saat ingin berjalan, gue terjatuh. Untung banget, Andi melihat gue yang terjatuh. Dia langsung menolong gue berdiri dan mengantar gue pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, gue bisa sedikit bersantai. Meski sudah bisa bersantai, keringat dingin terus membasahi badan gue. Kaki gue pun terus merasakan sakit. Rasa sakit ini sebelumnya tidak pernah gue rasakan. Bahkan meski gue telah berolahraga berat seperti laripun, rasa sakitnya tidak separah ini. Paling cuman pegal-pegal untuk beberapa hari lalu sembuh. Tapi kali ini rasa sakitnya berbeda. Rasa sakitnya diiringin dengan ketidaksanggupan gue berjalan. Bahkan untuk duduk dan berdiripun rasanya sakit sekali.

Keesokan harinya, kaki gue masih merasakan sakit. Sakit bukan menjadi alasan gue untuk tidak masuk sekolah. Kebetulan hari itu hari Sabtu, dan jam pada hari sabtu terbilang cukup cepat, jadi ya mendingan gue sekolah. Karena kegiatan hari sabtu disekolah tidaklah banyak. Bahkan mata pelajaran pada hari itu termasuk santai. Bahasa Inggris dan Ekonomi.

Baca Juga: Mencoba Sebuah Peruntungan

Pulang dari sekolah, hal tidak mengenakan terjadi pada gue. Ketika gue ingin menyebrangi jalan, yang pada saat itu gue benar-benar sudah sampai ketengah jalan, gue terjatuh untuk yang kedua kalinya. Gue berusaha untuk bangkit, namun tak bisa. Sementara itu di hadapan gue ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Karena tak mampu untuk bangkit dan takut mati, sementara mobil terus mendekat, akhirnya gue nekat berguling hingga ke seberang jalan. Serius! Gue benar-benar berguling hingga ke tepi jalan. Daripada gue mati di tabrak mobil, mending gue nyelamatin diri dengan cara guling-guling.

Gue selamat dari maut. Keberuntungan kembali menghampiri gue. Bapak-bapak yang saat itu lagi ngobrol, membantu menyebrangin gue hingga ke seberang jalan. Ucapan terima kasih tiada henti-hentinya gue ucapkan kepada bapak-bapak yang membantu gue berdiri dan menyebrangin gue.

Setibanya di rumah, badan gue terasa panas. Lidah terasa kebal (pahit). “Mungkinkah ini dampak dari latihan semalam?” pikir gue.

To be continue…

10 COMMENTS

  1. ceritanya masih cukup sedih kan, belum sedih? *canda*

    semoga lain kali dirimu lebih bijak dalam membagi waktu dan porsi karena tubuh juga butuh istirahat. kadang otak bilang masih kuat, padahal sebenernya stamina udah ga ada. 😀
    Diary Khansa

Tinggalkan Komentar

Setelah berkunjung, yuk jangan lupa untuk ninggalin jejak dengan cara meninggalkan komentar kalian di kolom yang sudah gue sediakan! Oya, kalian juga boleh ajak sanak, gebetan atau bahkan keluarga buat main-main ke blog gue. Pssst kalau kalian ada seorang kenalan cewek, bisa kali kenalin dia sama gue. Kali aja jodoh :p Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.