Hari Pertama di UGD

Akhirnya gue mau di bawa ke rumah sakit. Gue berusaha melawan rasa takut itu. Yeah. Gue di rawat juga di UGD. Di series ke lima ini menceritakan hari pertama di UGD. Iya, sebelumnya gue belum pernah masuk UGD.

Oya, berhubung ini cerita berseries dan sudah masuk ke series lima, saran gue mending baca dari awal sampai series empat deh. Tinggal klik di sini.

“APA? SUNTIK? TIDAAAAKK!!” gue menjerit sekuat-kuatnya. Ketika di ruang IGD.

Tidak ada hal yang lebih menakutkan selain jarum suntik yang menusuk urat nadi. Apalagi bila jarum suntik itu dibiarkan tertinggal di dalam nadi. OHHH NOOOO! Ngebayanginnya aja bikin gue merinding. Lemes. Tak berdaya.

Setiap manusia pada umumnya memiliki ketakutan akan suatu hal. Contohnya saja nyokap gue, yang takut ngelihat darah. Kalo udah ngelihat darah, badan nyokap langsung lemes. Terkadang keringat dingin. Saking takutnya. Wajar sih, kan manusiawi.

Setelah di kepoin sama para dokter umum yang malam itu sedang piket di IGD, gue dibiarin tergeletak di tempat tidur. Apes rasanya ketika dibiarin tergeletak tanpa di tanganin oleh tim dokter. Meski saat itu ruang UGD sedang ramai, di tengah keramaian itu gue merasa kesepian. Dan apesnya lagi, quota gue habis. Bokap sama nyokap pergi ke ruang radiologi mau ngambil hasil ronsen. Lama lagi.

Mungkin karena merasa kasihan, salah satu dokter datang menghampiri gue dan menemanin gue ngobrol. Ya meskipun yang diobrolin adalah seputar keluhan dari penyakit gue, setidaknya rasa kesepian itu bisa sedikit terobati.

Tak lama kemudian tim dokter yang tadinya ngepoin gue datang lagi. Tak hanya dokter, tapi ada juga beberapa mahasiswi dari salah satu universitas swasta yang sedang bertugas di ruang UGD. Tim dokter menyuruh para mahasiswi yang sedang ‘magang’ itu untuk meriksa tubuh gue.

Proses pemeriksaan sedikit canggung. Untung cuman periksa bagian tubuh. Seperti nempelin alat pengukur ke ketek. Pas ketek gue di tempelin alat pengukur, gue kepikiran satu hal, “sebelum gue, benda ini di tempelin ke ketek siapa?!”

Syukur kalo di tempel ke ketek cewek cantik. Mata gue menerawang pasien yang ada di ruang UGD, tak satupun ada pasien cantik. Yang ada nenek-nenek, ibu-ibu, abang-abang yang habis kecelakaan dan masuk ke UGD, dan sisanya bapak-bapak. Gue hanya bisa berharap alat pengukur yang ditempelin di ketek gue tadi bukan bekas orang yang mengidap penyakit kulit atau bekas orang kecelakaan.

Sesudah ditempelin alat pengukur ketek, kemudian datang lagi alat lainnya yang kelihatan lebih rumit lagi dari segi bentuknya. Kalo dari cara kerjanya sih pertama di lap pake semacam alkohol dulu lalu di jepit di kedua kaki dan tangan. Terus yang bulat-bulatnya di tempelin di dada. Belakangan ini gue baru tau, ternyata alat itu fungsinya untuk rekam jantung.

Sering datang ke rumah sakit membuat gue mengerti dari fungsi-fungsi alat yang ada di rumah sakit. Meski tidak semuanya sih.

“APA? SUNTIK? TIDAAAAKK!!” gue menjerit sekuat-kuatnya. Ketika di ruang IGD.

Iya, gue sempat mau menjerit ketika melihat dokter membuka segel dari alat suntik. FYI, jarum suntik harus steril. Karena kalo jarum suntik tidak steril bisa menimbulkan berbagai macam penyakit. Mangkanya, setiap ingin menyuntik, alat suntiknya pasti selalu baru. Buka segel, loh!

Meski jarum suntiknya steril dan baru buka segel, tetap aja nggak bisa membuat rasa takut gue akan jarum suntik menghilang.

Untuk mereda rasa takut, gue berusaha nutup mata. Dan biar tidak kelihatan penakutnya, gue memasukan selimut yang sudah gue bentuk seperti bola ke mulut untuk meredam jeritan gue.

Raaalaaaatt!! Ternyata cairan infusnya bukan warna merah, tapi ungu! Seperti ungu anggur. Belum habis cairan infus bening, dokter langsung menukarnya ke infus ungu. Waktu infus ungu masuk ke tubuh gue, ada sensasi dingin di bagian urat gue. Gue merasa lebih bertenaga dari sebelumnya yang lemes banget.

Beginilah warna cairan infusnya. Lihat sumber.

Sumber Gambar: https://chewidya.wordpress.com

Kampret, ternyata infus ungu itu tidak sampai habis. Belum sampai setengah udah di ganti lagi sama infus bening.

Seumur-umur, ini kali pertamanya gue masuk ruang UGD. Kesan pertama gue setelah menginap di ruang UGD: Kampret, banyak nyamuknya. Gue nggak bisa tidur.

Baca Juga: Kok Kamu Nggak Bisa Diajak Kompromi Sih?

Bukannya istirahat, gue terus terjaga hingga pagi hari tiba. Banyak hal yang menyebabkan gue nggak bisa tidur. Mulai dari banyaknya nyamuk yang mengganggu, pasien yang merintih kesakitan, salah satu pasien yang terus muntah-muntah yang mana juga membuat gue merasa mual. Gue terus bertahan hingga pagi tiba.

POKOKNYA GUE NGGAK MAU MASUK RUMAH SAKIT LAGI! NGGAK MAU MASUK UGD LAGI! TITIT! TITIK!

Mata gue sepet banget. Ngantuk, pengen tidur, tapi nggak bisa. Sementara itu nyokap gue yang bertugas menjaga masih bisa tidur. Meski awalnya nyokap tidak bisa tidur karena melihat pemandangan yang tak biasa ini pada akhirnya tidur juga.

——————————————

“Bang, mama pergi beli makanan dulu, ya?”

“Iya, Ma. Cepat ya. Takutnya nanti Abang kebelet,” ucap gue. Yang nggak bisa pipis berdiri. Harus di tampung pake bispot.

Emang sih gue udah gede, seharusnya malu kalo sampai kemaluan gue di lihat oleh perempuan. Tapi mau nggak mau gue harus menahan malu karena gue lagi sakit. Waktu tengah malam aja gue di bantu sama dokter buat pipis. Awalnya gue malu karena ditolong orang lain yang nggak ada hubungan saudaranya.

“Daripada nanti kencing batu, jadi penyakit,” ucap dokter yang membantu gue.

Mau nggak mau gue harus ngeluarin air seni dengan bantuan dokter. Untung dokternya baik.

“Ini sarapannya dek,”

“Makasih, Bu.”

Pagi itu gue dapat makan gratis karena penyakit gue sedang dalam tahap observasi oleh tim dokter. Asik juga, ya. Dikasih sarapan meskipun gue masih di ruang UGD. Tapi tetep aja walaupun dapet sarapan mata gue masih sepet karena belum tidur.

Baca Juga: Melawan Ketakutan

Susah memang kalo udah sakit. Pipis di tampungin. Makan di suapin. Mandi di mandiin. Pokoknya nggak bisa ngerjain sendiri deh.

“Ini resepnya bu. Silahkan di tembus dulu,” ucap perawat sambil memberi secarik kertas yang berisi resep dokter untuk obat dari penyakit gue.

Kebetulan bokap gue sampai saat itu juga. Karena nyokap gue masih stress dengan ruang UGD (nggak kuat lihat korban kecelakaan), yang pergi ngambil obat adalah nyokap.

————————————————-

“Kalo kayak gini biar abang nggak usah di rawat, Pa. Abang takut!” gue berusaha membujuk bokap agar tidak di rawat.

Bagaimana tidak, ternyata resep obat yang di tembus tadi berisi cairan infus dan juga jarum suntik ukuran gede. Gue sih nggak masalah sama infusnya, tapi gue lemes waktu lihat jarum suntik ukuran gede. Lebih gede daripada jarum suntik untuk ambil darah.

Baca Juga: Senang dan Derita

Salah seorang perawat menghampiri dan bertanya, “apakah obatnya sudah di ambil, bu?”

“Sudah,” jawab nyokap, memberi obat tersebut ke perawat.

Berhubung cairan infus gue mau habis, perawat itu langsung mengganti cairan infus tersebut. Bokap terus berupaya meyakinkan gue kalo suntik ukuran gede itu bukan untuk di suntik di bagian tubuh melainkan di suntik pada kabel infus. Tapi yang namanya takut ya tetep aja takut. Gue udah bosan di bohongin sama kata-kata, “nggak sakit kok, rasanya kayak di gigit semut.”

Perawat itu membuka segel daripada suntik tersebut dan menarik obat dalam bentuk cairan ke dalam suntik. Apa yang akan terjadi pada gue?

To be continue….



17 COMMENTS

  1. Eh tapi ini ngeblognya bukan pas lagi dirawat di UGD kan? Heheheh, kalau iya…total banget ini mah jadi blogger, lagi di UGD masih sempat bikin postingan.

    Benar, manusiawi kalau setiap orang pasti punya hal yang ditakutkan.
    Kalau jarum suntik sih saya sampai saat ini tidak takut. Bukan tidak takut lebih tepatnya udah gak kerasa lagi. Soalnya dulu pernah langganan banget sama yang namanya dokter, rumah sakit, jarum suntik dkk. Apalagi sama yang namanya jarum suntik. Pas sakit dulu saking seringnya disuntik, udah gak kerasa aja tuh sakit atau tajamnya disuntik jarum -_-“

    • Haha enggak mbak. Aku udah keluar dari rumah sakit kok. Rawat jalan lebih tepatnya.
      Pengennya waktu sakit kemarin tetap bisa ngeblog. Tapi berhubung kamar tempat aku di rawat nggak ada wifinya, jadinya ya gak bisa ngeblog.
      Hahaha iya mbak. Aku takut sama jarum suntik karena memang gak pernah di rawat di rumah sakit dan jarang banget di suntik. terakhir kali di suntik saja pas SD.
      Kalau sekarang ya udah langganan. Udah gak berasa jarumnya :D

  2. Hem…. ngeri juga liat jarum suntik tapi ukurannya bisa gede begitu. Seumur-umur, gue bersyukur belum pernah masuk UGD. Dan mudah-mudahan gak akan pernah. aminnn.

    Buat lo yang udah masuk UGD, cepet sembuh dan semoga Tuhan Mengangkat penyakit yang ada di tubuh lo bro. Semangat, ya…

  3. Sekarang udah sembuh belum bro? apa masih rawat jalan?
    take care yo bro sama kesehatan, soalnya orang kalo sehat suka belagu sakit baru inget karna gak bisa ngapa2in, untungnya jarum suntiknya gak segede badan loe wkwk :v

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.