Jika Semuanya Menuruti Standar

 

Belakangan ini jadwal gue lagi nggak sibuk-sibuk banget. Kuliah sore, pulang malem. Pagi sampe siang nggak ada kegiatan apa-apa. Karena punya banyak waktu senggang, gue manfaatin buat baca-baca blog temen.

Salah satunya adalah tulisan Kak Sefin. Pada postingan yang gue baca, lebih dan kurang dia berbicara mengenai standar kulit. Orang-orang mengomentari warna kulitnya yang cenderung gelap dan nggak menuruti standar wanita karena dia tipe orang yang suka beraktivitas di bawah sinar matahari. Ya, dia betul-betul sangat menyukai matahari. Karena mendapat komentar seperti itu, di bangku SMA dia lebih banyak mengurung diri di dalam rumah karena takut kulitnya menjadi gelap. Satu-satunya hal yang amat disayangkan adalah dia tidak bisa bermain di bawah matahari seperti dulu lagi. Dan gara-gara tulisannya, gue tergelitik untuk menulis hal yang menjadi keresahan gue selama ini.

Sebagai informasi, latar belakang pendidikan gue dari sekolah negeri. Gue adalah satu-satunya siswa alumni dari SD Barat yang namanya berhasil tembus sekolah menengah favorit yang berada di peringkat ke dua di kota gue. Letaknya sangat strategis yakni tepat di pusat kota. Jadi kalau mau pergi ke mana-mana pun enak. Tinggal cus, sampai deh di tujuan.

Namun sayangnya jarak dari rumah menuju sekolah terbilang lumayan jauh. Yakni sekitar 5 km dan belum ditambah dengan macet saat pagi hari.

Tapi bukan itu intinya! Persoalannya cukup sederhana. Gue hanya bingung dengan standar yang ditetapkan orang Indonesia. “Ah, lu cowok kok kulitnya putih, sih! Ga laki, lu!” komentar Aisyah anak dari kelas sebelah yang ikut bergabung dengan kami saat jam pelajaran sedang kosong.

Gue dan Ridho memandang keheranan. Yah, waktu itu memang kami lagi ngebahas produk untuk mencerahkan warna kulit. Biasalah, obrolan anak remaja perempuan. Gue dan Ridho bergabung karena di tarik paksa oleh anak-anak perempuan. Gue sendiri bingung bagaimana menanggapi Aisyah karena itu pertama kalinya gue berhadapan dengan orang yang nggak suka dengan gue.

Ah, paling cuma bercanda, pikir gue.

Naik ke jenjang SMA. Gue mendaftar di sekolah yang cukup dekat dengan rumah biar bisa bangun agak siangan. Di sini gue bertemu dengan anak-anak dari berbagai macam latar belakang. Di kelas gue banyak wanita cantik. Salah satunya bahkan model majalah. Namanya Herni. Di kelas, tempat duduknya persis di belakang gue. Dibanding yang lain, gue dan Herni cepat akrab. Saat siswa lainnya berusaha mempelajari karakter satu sama lain, gue dan Herni udah maju sampai ke tahap yang lebih intim. Yang kalau mau ngomong sesuatu nggak perlu pikir-pikir ulang karena udah deket layaknya kawan lama.

Semua berjalan normal sampai suatu hari perempuan yang duduk di paling depan dekat pintu ikut bergabung bersama kami berempat. “Dasar hitam!” Devi meledek Johan.

Johan semakin antusias menggodanya. Salah satu senjata favoritnya adalah menyerang dengan benda-benda yang tidak disukai Devi seperti kaus kaki, seragam sekolah yang sedang basah oleh keringat. Namun waktu itu dia nggak bisa menggoda lebih jauh lagi karena Herni dan Indah mendesak Johan untuk menceritakan lebih jauh tentang kebiasaan orang-orang di kampungnya.

“Kok kulitmu putih sih, Jak!” tiba-tiba Devi memotong cerita Johan. “IHH! Aku iri, deh!”

“Iya, Dev! Lihat tuh, warna kulit aku aja kalah!” Herni si model menambahi. Dia menelanjangi lengan gue sampai seukuran siku.

“Kukira cuma aku aja. Kalian juga?” tanya Indah.

“Iya!” seru Devi dan Herni kompak.

“Tuh! Kamu nggak laki banget Jak dengan warna kulit itu!” celetuk Rahma yang lebih dulu mengomentari warna kulit gue.

DEG! Seketika gue merasa kurang jantan. Sialnya mereka merasa iri dengan apa yang gue miliki. Lebih-lebih lagi yang ngomong adalah cewek. Sementara itu anak laki-laki yang lain seperti enggan berkomentar saat melihat kehebohan yang di ciptakan oleh barisan para siswi yang nggak terima warna kulitnya dikalahkan oleh sosok laki-laki.

“Kenapa sih kalian ini? Putih salah. Hitam salah. Apasih mau kalian?” Johan membela. Dia termasuk sering diledeki oleh anak-anak perempuan karena kulitnya gelap. Namun dia nggak mempermasalahkan itu karena dia bangga dengan apa yang dia punya. Mereka semua diam. Gue berusaha menahan tawa karena jarang-jarang juga si Johan bersikap bijak.

Sejak saat itu mereka nggak lagi menggunakan kata-kata kurang jantan. TAPI NIH! TAPI!!! Mereka punya panggilan sayang, yang ditujukan khusus untuk gue. Bukan sekedar panggilan atau lawakan. Bahkan menjadi identitas baru gue. “Siapa anak gadis kesayangan kita?” tanya Mega meniru gaya host di acara televisi.

“EJAK!!!” Herni berseru.

Awalnya gue mengira kalau itu cuma berlaku di kelas. Ketika di kantin, saat habis mata pelajaran olahraga, gue terpaksa ngutang karena uang jajan gue hilang. Masalah biasa, hilang karena saku celana bolong. Untungnya, si pemilik kantin kenal dekat sama gue.

“Oke!” kata ibu kantin mengeluarkan buku sakti berukuran panjang yang berisi nama-nama orang yang ngutang di kantinnya. Gue memastikan nama gue betul-betul di tulis. Di sini kegajilan di mulai. Si ibu kantin senyum-senyum sendiri ketika menulis sesuatu di buku sakti. Sesekali memandang ke arah gue. Gue mulai curiga. Insting gue berkata ada sesuatu yang nggak beres. Lalu gue mencoba berdiri di samping si ibu kantin. “Udah, bu?” tanya gue polos.

“Udah.”

“Coba lihat?”

Si ibu kantin memperlihatkan apa yang dia tulis di buku sakti. KAMPREEET! TERNYATA PANGGILAN ITU SUDAH TERSEBAR SAMPAI KE KANTIN!!! Gue buru-buru pinjem tipe-x untuk menghapus keganjilan yang ada di buku sakti. Menutupi bagian anak gadis dengan cairan warna putih. Si ibu kantin tak henti-hentinya tertawa meledek ke arah gue. Huh! Untung aja makanan yang dia jual enak! Coba kalau enggak, udah pindah kantin gue!

Belum cukup sampai di situ. Ketika pembagian buku cetak, gue minta tolong sama Mega untuk menuliskan nama gue di buku baru. Maklum saja, tulisan tangan gue jelek. Mega setuju dengan syarat gue harus pinjemin dia pena sampai pulang. Gue pun mengiyakan. Toh cuma pinjem pena. “Udah, Jak.” Dia ngasih buku cetak itu ke gue.

Gue berdehem sebentar. Oke, nggak ada yang aneh. Nama gue di tulis dengan benar di pinggang buku. “Makasih.” Gue memutar badan ke depan. Tawa Mega dan Herni pecah. “Kalian kenapa, sih?” gue memandang mereka bergantian.

Johan senyum-senyum sendiri. “Nggak ada,” jawab Johan. Begitu juga dengan Herni dan Mega. Gue semakin curiga dan mulai merasa ada sesuatu yang aneh begitu melihat mata Johan yang sedaritadi tertuju ke buku cetak gue.

Jangan-jangan… gue membatin, lalu membongkar setiap halaman buku dengan cepat. Pada bagian sampul buku, terkuak apa yang mereka tertawakan sedaritadi. Reza Anak Gadis Herni dan Mega.

“Jangan di hapus!” Herni menahan tangan gue yang udah menyentuh tipe-x. “Anggap aja itu kenang-kenangan dari kami.”

Mereka berdua benar. Gue mengembalikan tipe-x itu ke Anggun dan membiarkannya. Menjadikannya sebagai kenang-kenangan dari mereka berdua. Gue meminta mereka untuk membubuhi tanda tangan dan nama panjang mereka di buku itu. Termasuk Johan dan Indah. Buku itu masih ada sampai sekarang dan tersimpan rapih di rumah.

Setelah lulus SMA gue mulai pindah ke Jakarta. Bukan sekeluarga, melainkan gue sendiri karena harus melanjutkan pendidikan. Di sini gue masuk ke dalam lingkungan yang lebih asing dan lebih besar dari yang sebelum-sebelumnya. Gue bertemu dengan beragam karakter dan suku dari seluruh penjuru Indonesia. Gue bangga untuk itu.

“Lu sih item!” komentar seseorang. Gue menatap keheranan. Lalu menyesap cairan hitam di dalam gelas yang gue pesan sewaktu pelayan menyodorkan buku menu. Gue diam tanpa bereaksi. Menunggu kalimat itu di teruskan. Barangkali dia hanya sedang bercanda. Seperti yang gue harapkan, kalimat itu masih ada lanjutannya. Dia minta maaf dan mengatakan bahwa barusan dia tidak bermaksud menghina.

Gue tau itu. Toh dari awal gue udah memaafkan.

“Kalau lu mau sama dia, suntik putih dulu, Za!” seseorang menimpali dengan nada meremehkan. Gue menandaskan minuman di dalam gelas sewaktu dia berujar. Lalu menaruhnya kembali dan mulai berhitung. Tidak ada perubahan reaksi seperti yang gue harapkan. Dia terlihat percaya diri dengan kalimatnya barusan. Bahkan tak ada rasa bersalah di ujung sana.

Gue akui, gue yang sekarang memang agak gelap. Tapi bukan karena panas matahari. Cenderung lebih kusam karena kurang merawat diri. Polusi di Jakarta semakin menambah buruk keadaan. Debu di mana-mana. Asap kendaraan. Lebih-lebih lagi gue termasuk malas mencuci muka kalau habis dari luar.

Awalnya biasa-biasa saja. Sedikit pun gue nggak marah karena memang beginilah adanya: warna kulit gue gelap. Tapi lama kelamaan gue jadi risih. Bukan risih karena dikata-katain hitam. Melainkan karena suntik putih itu. Untuk sekali-duakali gue masih bisa tolerir. Tapi kalau berkali-kali, itu udah bukan bercanda lagi.

Buat gue nggak masalah dikata-katain hitam. Toh, wajar aja namanya juga laki-laki. Gue bersyukur dengan warna kulit gue yang sekarang—entah itu hitam atau gelap kusam. Gue hanya nggak terima ketika seseorang menyuruh gue merubah apa yang sudah gue syukuri sedari awal hanya untuk menuruti standar yang dia buat.

Dan gue setuju dengan Johan, kawan gue waktu SMA. Menjadi putih salah. Menjadi gelap juga salah. Maunya apa, sih?

Oh, ayolah. Ini bukan abad ke delapan belas. Jika semuanya harus menuruti standar, mungkin nggak ada chef laki-laki karena dapur adalah area kekuasaan wanita. Kalau semuanya harus menuruti standar, nggak ada presiden atau gubernur wanita yang memimpin suatu wilayah.

source: pexels.com

Standar memang diperlukan, tapi tidak dengan cara demikian. Dan gue nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup jika semuanya menuruti standar yang dibuat bukan dengan tujuan mengarahkan ke yang lebih baik.

Sekian dari gue dan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan yang nirfaedah ini :)

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



13 COMMENTS

  1. gua kok malah iri ya baca ceritanya. lo sebenarnya mau ngeluh apa pamer, kampret. Berasa anime harem jadinya. Hahaha.

    Kulit gua jg rada putih sih. Tapi gk pernah diledek. Sabar ya jak.

  2. Kayaknya masa SMK gue juga pernah diledek begitu. Karena gue masih terbilang putih di antara beberapa teman yang lain. Padahal karena gue lagi rajin main warnet, kan di AC mulu tuh jadi jarang panas-panasan. Kesel banget, sih, kalau ada orang yang sampai sekarang masih berpikiran soal warna kulit. Jadi cowok kalau terlalu putih kurang jantan, lalu cewek harus putih kulitnya biar disukai cowok-cowok.

    Taeklah yang masih mempermasalahkan perbedaan kayak gitu. Apalagi kudu suntik putih segala. Hadeh. Bercandaannya juga kurang etis menurut gue. Ya, meskipun gue sendiri pernah ngatain dekil ke teman yang tadinya putih, terus habis liburan ke pantai dan pulau jadi lebih gelap kulitnya. Tapi kayaknya itu persoalan lain. Cuma berbicara jujur aja, kalau habis liburan kayak gitu gue juga pasti dekil. Wq~

  3. AKu punya teman malah keturunan Arab, dia putih dan imut banget. Padahal stereotypenya kan kudunya tinggi, gedhe, kecoklatan gtu. Tapi dia enjoy aja hehe.
    Pdhl gmn lagi sejka lahir kan kulitnya gtu :D
    Bersyukur aja sih jd yg berbeda jdnya mereka kenal kita hehe

  4. serem amat pake suntik putih.

    yaanh begitulah, terkadang hal yang kelewatan yang membuat menyinggung di bilang bercanda.
    tidak semua orang sih yang mau di becandaiin, kadang ada yang terima kadang tidak.

    kalau gue masalah kulitmah gue sukuri aja ciptaan tuhan ini. kan yang jalanin kita bukan mereka. pisss

  5. Ya ampuuuun…teman2 SMAmu termasuk rese jg ya? Kok tiba2 jd muncul ide “anak gadis” darimana coba? Iri kali mereka yah…
    Ah bersyukur itu nikmat. Apa adanya ajah. Gak usa pikir apa kata orang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.