Mencoba Sebuah Peruntungan

Di Selasa siang yang sangat cerah… ada seorang pria tampan dengan tubuh kekar pulang ke rumahnya ketika gue pulang ke rumah sambil membawa selembar kertas yang diberi oleh kakak-kakak dari Binus, nyokap gue yang waktu itu lagi telponan sama keluarganya yang di Jakarta langsung menutup teleponnya ketika gue memasuki jenjang rumah. Bukannya di sambut dengan hangat seperti, “bagaimana pelajarannya di sekolah tadi bang? Berjalan lancar kah? Adakah pelajaran yang yang nggak abang mengerti?”, atau “Silahkan masuk bang, mama sudah masakin makanan enak untuk abang yang hari ini ada les di sekolah.”

Tapi gue dapat respond yang berbeda, “Cepat! bawa sini kertas itu!” kata nyokap, seperti preman yang ingin memalak orang saja.

Gue melepas sepatu dan masuk ke rumah sambil memberi lembaran kertas yang gue dapat dari kakak-kakak Binus yang mengadakan sosialisasi ke sekolah gue hari itu.

Baca Juga: Kamu Datang Diwaktu Yang Tidak Tepat

Nyokap mengambil kacamata yang ia gunakan tiap kali ingin membaca sembari mengatur posisi duduknya. Nyokap membaca dengan seksama lembaran yang gue berikan, mulutnya tak berhenti berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra saja. Hmm… jangan-jangan mantra itu digunakan untuk mempengaruhi otak gue supaya mau ngikutin keinginan nyokap? Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin ada mantra yang seperti itu. Di zaman yang sudah canggih seperti sekarang ini? Ha, tidak mungkin.

Tapi anehnya gue langsung nurut sama nyokap.

Yeah, mantra nyokap berhasil!

Kebiasaan gue setiap pulang sekolah adalah ngaca. Gue ngaca di depan sebuah kaca yang berukuran cukup besar. Muka gue saat itu kayak orang bego yang habis kena hipnotis.

Gue melepas jam tangan yang biasa gue kenakan dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka sejenak. Ngilangin kotoran dan debu jalanan yang menempel di wajah. Sayangnya, kenapa yang menempel di muka gue adalah debu. Coba kalo yang nempel adalah uang, mungkin gue udah jadi orang kaya karena hal ini rutin gue lakuin setiap pulang sekolah atau tiap kali pulang dari bepergian.

Seandainya dalam sekali perjalanan uang yang menempel adalah uang 100 ribu, dalam sekali pulang aja gue bisa membasuh muka sampai tiga kali, itu artinya gue bisa mengantongin 100 ribu. Kan lumayan buat makan di warteg dan ngopi di Cetalbak.

Bicara soal kotoran dan debu yang menempel di wajah, gue kepikiran buat membuka usaha baru. Usaha steam wajah! Kalo mobil, motor dan baju ada jasa pembersihannya, maka muka yang kotor juga bisa dijadikan ladang bisnis baru. Bisnis cuci muka. Nanti pegawainya cantik-cantik dan ganteng-ganteng biar yang mau cuci muka di tempat gue betah. Mungkin bisnis gue bisa berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan kendaraan bermotor! HAHAHAHA

—————————————————–

Ketika gue lagi makan, telinga gue samar-samar mendengar nyokap sedang menelepon seseorang. Gue berjalan ke arah ruang tamu dan berusaha nguping pembicaraan nyokap.

“Hallo, ini Binus ya?”

Nooooooooo! Ternyata nyokap menelepon orang dari Binus yang nomornya gue minta saat di sekolah tadi! Gue pun ngelakuin hal yang seharusnya tak gue lakuin: menguping pembicaran nyokap sama orang Binus.

Timbul sebuah pertanyaan dalam kepala gue: nyokap dapat nomor kakak itu darimana? Padahal gue nggak ngasih tau nomornya. Jangan-jangan… gue beneran di hipnotis sama nyokap buat ngasih tau nomor kakak tersebut :(

Untungnya saja nggak, ternyata ulah adik gue yang membuat nyokap tau nomor kakak tersebut.

Nyokap menutup telepon itu dan lalu berkata ke gue, “Nanti malam kita pergi ke Hotel menemuin orang Binus itu.”

Sip. Itu yang gue harapin. Bertemu dengan kakak itu untuk yang kedua kalinya. Karena kalo sekali kurang puas rasanya. Gue kangen, gue kangen sama kakak tersebut :(

Karena malam itu gue ada jadwal mau ke dokter gigi, maka berangkat ke hotelnya setelah gue selesai berobat di dokter gigi. Dikarenakan antrean yang cukup panjang karena gue lupa booking tempat, gue ditaruh di urutan pasien paling akhir. Padahal gue udah dateng lebih awal supaya bisa segera di layanin. Rencana tak berjalan sesuai keinginan. Akhirnya gue pergi ke Hotel, menemanin nyokap dan bokap yang mau konsultasi soal Binus.

Pertemuan itu dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bokap lontarkan seperti, “berapa biaya kuliah di Binus?”

Gue sih nggak mau nanya apa-apa karena gue rasa pengetahuan gue tentang Binus udah cukup. Udah tau banyak lah ya. Tapi kemudian gue mulai teringat dengan program peminatan untuk jurusan Sistem Informasi yang dibagi menjadi empat peminatan yang mana setiap peminatan memiliki kerjasamanya masing-masing. Gue ikut nimbrung karena gue belum tahu, di Binus program peminatannya di beri sertifikat atau tidak karena tidak dijelaskan di sana.

Baca Juga: Sebuah Keputusan Yang Cukup Berat

Karena yang gue ingat cuman program peminatan rancang dan bangun aplikasi database yang bekerjasama dengan Oracle, gue menanyakan soal itu sama si kakak. Dan… untungnya sama-sama memiliki program peminatan yang juga bekerjasama dengan Oracle serta sama-sama mendapat sertifikat.

Dalam sesi konsultasi itu, ada banyak sekali pertanyaan yang ditanyakan bokap dan nyokap. Gue juga ikut nimbrung beberapa pertanyaan yang belum gue ketahui soal Binus. Dalam konsultasi itu, bokap sama nyokap kelihatan senang dan antusias banget. Kayaknya bokap sama nyokap betul-betul mendukung gue buat masuk ke sana.

——————————————————————-

Sebuah mobil tepat berhenti di depan rumah gue. Gue mengintip dari jendela, siapakah gerangan? Mungkinkah tamu dari Binus yang datang kemari? Ternyata benar. Tamu dari Binus itu datang ke rumah gue.

Gue setuju buat ambil Binus. Dengan syarat kalo dapet beasiswa, gue akan ambil di sana. Tapi kalo nggak dapet, gue akan ambil UMN karena rugi banget kalo beasiswanya di buang. Bokap sama nyokap pun setuju dengan syarat yang sudah gue buat. Formulir pun diberikan dan dijelaskan bagaimana cara mengisi formulir tersebut.

Bisa dibilang, gue ingin mencoba sebuah peruntungan. Kalo beruntung, gue akan ambil ini. Tapi kalo tidak beruntung, gue akan ambil itu. Gampang bukan?

Formulir Pendaftaran yang sudah gue isi sebelumnya
Formulir Pendaftaran yang sudah gue isi sebelumnya

Keesokan harinya, mereka datang lagi untuk ngambil formulir yang sudah gue isi kemarin. Setelah di cek satu-persatu, rupanya ada bagian yang belum gue isi! Kampret! Untung aja kakaknya teliti.

Begitu lengkap, formulir tersebut langsung di ambil beserta nilai raport yang sudah di legalisir terlebih dahulu oleh pihak sekolah. Proses legalisir berjalan dengan lancar karena saat itu sedang ada acara perayaan ulang tahun sekolah. Jadi, yang berurusan di ruang komite sangat sedikit sekali. Berbeda dengan hari-hari biasa yang rame minta ampun! Untung gue menyadari hal tersebut dan langsung minta legalisir raport oleh pihak sekolah.

————————————————————–

Minggu pagi, gue bangun tanpa alarm hp. Ohh… Minggu pagi yang indah. Kenapa hari minggu seperti ini digunakan untuk hari Tes sih?!! Kenapa nggak hari Senin aja coba?! Weekend kayak gini kan jarang-jarang banget! Gue harus menderita selama empat hari di sekolah, bertemu dengan teman-teman yang rada kampret dan kadang nyakitin hati, sementara minggu gue di pake untuk tes? Oh god, why? :(

Minggu pagi, bokap membawakan makanan yang rada spesial, Nasi udu dengan gorengan yang cukup banyak. Mungkin maksud bokap membawakan makanan yang rada spesial seperti ini biar gue sukses menjalanin tesnya. Sukses dan masuk ke Binus. Gue juga mau, sih. Tapi kalo memang rezeki gue bukan di sana, mungkin gue akan tetap ngambil pilihan pertama gue, UMN. Gitu aja gampangnya.

Baca Juga: Akhirnya Gue Memilih…

Kartu-Peserta-Tes
Semoga hasilnya memuaskan

Tes dimulai pukul 09.30. Tes pertama adalah Psikotes. Untuk matematikanya tidak terlalu rumit menurut gue. Gue berhasil mengisi dua puluh soal. Dan sisanya gue ngasal. Untuk tes gambar, karena waktunya sangat singkat, 12 menit, gue hanya mampu mengisi 17 soal dari 30 soal. Sementara untuk tes Bahasa Indonesia, gue berhasil ngisi semuanya. Tapi soalnya banyak menjebak. Asoy! Semoga gue nggak terjebak oleh soal-soal yang ada.

Kampretnya, dalam tes kemarin, gue ketemu sama teman gue yang pindah sekolah. Dia juga ikut tes Binus rupanya, bersama dengan pacarnya yang juga ikut tes Binus. Tes yang seharusnya menjadi ajang kompetisi untuk saling mengadu kemampuan dan saling memperebutkan beasiswa, jadi ajang contek-mencontek. Gue sih nggak mau nyontek, buat apa coba? Ini bukan ujian sekolah, men. Lagian buat apa coba bangga-bangga masuk Binus dengan beasiswa dari hasil contek?

Gue murni hasil sendiri. Sementara dia bekerjasama dengan pacarnya dan dia juga nyontek punya gue. Dia ngotot banget pengen nyontek. Kata dia, “Masuk bareng, lulus bareng!”

Di kira sekolah apa? Ini tes beasiswa, men! Kalo nggak dapet beasiswa, ya gampangnya lo tetap bisa masuk Binus melalui jalur reguler. Kenapa musti memaksakan diri supaya lulus coba? Biar bisa bangga gitu?

Kalo gue pribadi lebih bangga dengan hasil sendiri. Biarpun nggak dapet, atau dapet tapi cuman sedikit, gapapa, yang penting hasil sendiri. Toh, kalaupun gue nggak dapet gue masih punya cadangan, UMN :))

Setelah Psikotes, lanjut ke Tes Toefl. Tes Toefl sendiri memang tidak menjadi penentu kelulusan dalam tes. Tapi kata kakak dari Binus, gue nggak boleh ngasal karena Toefl juga termasuk penting. Jadi, gue cuman ngisi semampunya aja diiringin dengan jawaban ngasal karena bingung harus jawab apa :(

Baca Juga: Mungkin Ini Yang Namanya Rejeki Anak Sholeh

Singkat cerita, weekend gue kali ini berjalan dengan sangat singkat. Tidak ada waktu bersantai karena semuanya digunakan untuk tes. Gue harap, weekend kali ini benar-benar worth it sama perjuangan yang telah gue lakuin.

Ya, semoga saja.



12 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.