Penderitaan Telah Berakhir

Ini adalah series terakhir dari cerita berseries gue. Nggak kerasa ya akhirnya gue bisa sampai di penghujung cerita berseries ini. Penginnya sih di ceritain semua, tapi takut jadi panjang. Jadi gue sengaja persingkat aja biar cerita berseriesnya nggak kepanjangan.

Kalo mau baca cerita berseries gue selama berada di rumah sakit, kalian tinggal klik di sini aja ya.

Huuffft.. capek juga ya rasanya dibohongin terus-menerus. Ternyata gini ya rasanya dibohongin. Pantes para perempuan sering kesel ketika ia dibohongin oleh laki-laki. Gue juga kesel dibohongin. Hmm… jangan-jangan gue perempuan lagi? Abaikan.

Iyasih, upaya bokap buat ngeyakinin gue kalo jarum suntik ukuran gede itu berhasil membuat gue sedikit tenang. Iya cuman sedikit, karena setelahnya gue merasakan sakit yang ampun banget deh sakitnya.

Jarum suntiknya memang nggak di suntikin ke bagian tubuh. Gue lega. Waktu suntiknya di suntikin ke bagian kabel infus (bukan di bagian kabelnya sih, gue nggak tau bagian apa. Pokoknya gitu deh. Yang pernah masuk rumah sakit pasti tau dimana letak disuntiknya obat.

Awalnya biasa saja. Namun lama-kelamaan ketagihan. *lah?

Beberapa menit setelah disuntik barulah efeknya timbul. Pedih men! Pedih! Rasanya urat-urat gue kayak ditarik dan ditusuk oleh mantan benda tumpul. *benda tumpul mana bisa nusuk bego!*

—————————————————-

“Akhirnya… legah juga bisa keluar dari ruang UGD,” gumam gue waktu di dorong dengan kursi roda, keluar dari UGD dan dipindahin ke ruang rawat inap. Sebelum dipindahin ke ruang rawat inap sempat terjadi perdebatan antara gue sama nyokap.

Nyokap mau gue di pindahin ke ruang rawat kelas I. Guenya gak mau. Gue mau di ruang VIP. Ya… karena kelas I fasilitas untuk ruangannya gue kurang suka. Bagaimana tidak, dalam satu ruangan ada dua pasien dan dua keluarga. Iya kalo keluarga pasien satunya lagi tenang. Gak banyak bikin ulah. Coba kalo sering bikin ulah? Bukannya bikin cepat sembuh malah jadi stress. Bikin ulah dalam artian misalnya ada anak-anak yang suka mondar-mandir lari sana-sini terus teriak-teriak.

Orang yang ingin menjenguk pun di batasi waktu berkunjungnya. Biasanya dari jam 13.00 sampai 21.30 WIB untuk kelas I. Sementara untuk VIP tidak ada batasan waktu dan keluarga yang menjaga pun boleh lebih dari satu orang.

“Pa, abang mau di suntik asal abang di pindahin ke VIP. Kalo di kelas I, abang nggak mau di suntik. Mending pulang aja,” kata gue. Berusaha negoasiasi sama bokap. Berhubung bokap orangnya mudah diajak kerjasama, mangkanya gue negoasiasi sama bokap.

Bokap pun menyanggupi. Bahkan sewaktu gue bilang “mau” di rawat di rumah sakit, bokap langsung nanya, “mau rumah sakit mana dan kelas apa?” gue langsung jawab aja, “Rumah sakit Tiara ruang VIP!”

Baca Juga: Melawan Ketakutan

Sayangnya rumah sakit Tiara sudah penuh. Yang tersisa hanya ruang bangsal (yang untuk 15 orang pasien).

Sehabis di pindahin, gue kembali kecewa karena fasilitas ruang VIPnya tidak sesuai ekspetasi gue. Nggak ada kulkas, nggak ada televisi, nggak ada jaringan internet. Maklum, quota gue saat itu lagi habis.

“Eh ada anak muda…” ucap tamu yang datang. Gue yang waktu itu lagi tidur jadi terbangun oleh suara itu. Ternyata ada dokter!

“Apa keluhannya?” tanya dokter yang waktu itu lagi masuk ke kamar tempat gue di rawat.

“Ini dok… nggak bisa jalan. Kaki kayak mati rasa. Kalo jalan harus di papah. Kalo jalan sendiri bisa jatuh.” gue menceritakan keluhan yang di rasakan pada dokter.

Dokter pun melihat data yang diterimanya dari ruang tempat gue di rawat sebelumnya, UGD. “Kamu terkena Hipokalemia,” ucap dokter.

“Hipo… apa dok?”

“Hipokalemia.”

“Itu sakit apa ya dok?”

“Kamu kekurangan Kalium. Mangkanya kamu nggak bisa jalan dan kaki terasa mati rasa.”

“Jadi aku harus bagaimana ya dok?” tanya gue yang ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit. Sakit bro! Di suntik terus tiap hari!

“Harus banyak-banyak makan Pisang. Terutama Pisang Ambon. Melon juga bisa,” jawab dokter dengan ramah.

Ia adalah dokter Zaini. Yang bertanggung jawab atas kesembuhan gue. Lalu salah satu bagian dari ahli gizi datang ke dalam ruangan dan dokter langsung memerintahkan ahli gizi agar memberi gue tambahan Pisang tiap selesai makan. Beruntungnya gue.

Oh ya, ternyata kadar kalium gue waktu masuk rumah sakit berada di bawah angka normal. Angka Kalium gue waktu itu adalah 1,5 dari angka normalnya yang 3,5. Wajar sih. Gue kehilangan 2,0 kalium. Tidak hanya Hipokalemia sih, ternyata gue juga di diagnosa terkena Hipokalsemia alias kekurangan Kalsium.

————————————————————

Gue akhirnya bisa bernafas lega karena dokter memperbolehkan gue untuk rawat jalan karena ada perkembangan terhadap hasil Lab yang mana angka Kalium gue ternyata mengalami kenaikan. Cuman naik sedikit, sih. Cuman naik 0,5. Tapi gue senang karena kaki gue udah gak mati rasa lagi seperti sebelumnya.

Setidaknya gue sudah bisa jalan sendiri meski masih terasa sedikit berat ketika di bawa jalan. Bukannya langsung pulang ke rumah, gue langsung pergi supermarket buat beli cemilan dan juga vitamin. Hebat juga ya gue, baru keluar dan masih rawat jalan tapi udah ke supermarket aja.

Selama berada di rumah sakit ada cukup banyak pelajaran yang bisa gue ambil. Seperti:

1. Bersyukur karena dianugerahi kesehatan

Sakit itu mahal. Terbukti ketika gue mau pulang gue dapat tagihan pembayaran biaya rumah sakit selama di rawat sebesar 5 juta rupiah. Untung gue sudah terdaftar di BPJS. KArena punya BPJS, gue cuman perlu bayar 500 ribu rupiah :)

Sehat itu murah. Sehat nggak harus mahal-mahal. Cuman dengan menjaga asupan makanan, jaga pola tidur dan rutin olahraga maka tubuh bisa terhindar dari berbagai macam penyakit. Gue nggak mau lagi sakit. Pokoknya gue harus sehat! Gue nggak mau di rawat di rumah sakit lagi :(

2. Jangan sampai tertipu oleh perawat yang berkata “nggak sakit kok, cuman kayak di gigit semut.”

Ada aja perawat yang berusaha meyakinkan pasien bahwa di suntik itu nggak sakit padahal kenyataannya sakit banget. Gue udah ngerasainnya. Tapi syukur, semenjak sering di suntik gue jadi kebal terhadap jarum suntik. Sering nggak terasa jarumnya. Tapi tidak untuk jarum suntik ukuran gede yang gue dapet waktu di ruang UGD.

Baca Juga: Hari Pertama di UGD

Penderitaan yang terus gue alami selama di rawat di rumah sakit akhirnya akan segera berakhir. Iya! Penderitaan telah berakhir! Yeay \o/ gue bisa bernafas lega juga akhirnya ya meskipun masih harus rutin rawat jalan. Tapi setidaknya gue nggak tiap hari di suntik. Paling nggak tiap dua minggu sekali gue harus di suntik. Lumayan daripada tiap hari.

Sering kali gue sedikit sombong atas berkah yang gue dapat. Gue sering banget berdoa minta sakit supaya nggak masuk sekolah. Karena dari gue TK sampai gue SMA kelas XI gue jarang banget terserang penyakit. Sekalinya sakit paling cuman demam atau batuk. Kalau sakit parah seperti sekarang ini belum pernah. Itu sebabnya gue sering takabur.

Pokoknya gue nggak mau takabur lagi. Gue nggak akan lupa untuk selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh-Nya. Dan gue nggak mau sakit lagi :)



5 COMMENTS

  1. Rejaaa!!!!
    Long time no see \ ( – 0 – ) /

    Wah, jaga-jaga kesehatan Za, apalagi lo bentar lagi ujian.
    Wahahah, bener tuh, dasar suster pembohong! *ala sinetron*

  2. Ah, nggak apa-apa lah ya, udah kelewat beberapa minggu baru baca sekarang?
    Aku juga takut sama yang namanya jarum suntik. Dulu pas kelas 1,2,3 nyampe nangis dulu gegara disuntik. Nggak tau kapan terakhir disuntik. Udah lama banget soalnya wkwk.
    Aku belum pernah dirawat kayak gitu, tapi adik aku pernah. Temen aku pernah. Ih, aku mah ngeri da liatnya. Suka pengen nangis sama pingsan gitu.
    Alhamdulillah udah sehat. Tuh, sering makan pisang ambon sama melon! Eaaa :D
    Sehat tuh langka, Za sekarang mah kata aku… Kebanyakan anak-anak sekarang sakitnya udah aneh-aneh tauuuu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.