Tentang Kelas: Reshuffle

 

Ini adalah lanjutan dari postingan gue sebelumnya. Bila kalian ingin membaca cerita ini, alangkah baiknya kalau kalian membaca cerita sebelumnya disini. Kalau sudah, gak perlu lagi membaca cerita sebelumnya. Langsung aja, ya.

Saat itu ada pelajaran Mulok (Bahasa Inggris, namun pelajarannya berbeda dengan Bahasa Inggris utama). Karena minggu lalu Fakhri gak masuk sekolah karena suatu alasan, jadi, guru Mulok menyuruhnya untuk maju supaya nilainya gak kosong. Saat itu pelajarannya tentang percakapan apa ya, gue lupa detailnya. Pokoknya yang dinilai itu speaking-nya. Karena Bahasa Inggris gue lumayan, jadi, Handhika menyuruh gue untuk nolongin Fakhri.

Teman sebangku

Waktu itu gue ada di antara mau atau gak mau. Mau karena hati nurani gue berkata “tolong lah”, gak mau karena Fakhri kadang masih suka nikung tempat duduk gue. Kalau dilihat-lihat, Fakhri ini ganteng juga ya. Kata gue waktu itu. Mulai timbul rasa suka, yang berhujung cinta antara gue dengan Fakhri. Dengan alasan hati nurani dan karena tampang Fakhri yang begitu ganteng, gue mau nolongin dia. Dan untungnya gue masih ingat percakapannya waktu itu. Jadi, gue gak perlu repot-repot buka buku lagi untuk menghafalkan percakapannya.

Untuk yang pertama kalinya gue mendengar Fakhri berucap “Makasih” langsung, ke gue. Kalau tadi timbul rasa suka, kalau sekarang mulai timbul rasa cinta dan hati ini pun berkata, “Tembak gue Ki! Tembak! Tembak gue sekarang juga dengan pistol cinta lo!”. Baiklah, itu menjijikan.

Baca juga: Diajak Sahur Bersama

Gara-gara hal itu, gue sering di manfaatin untuk nolongin Fakhri. Gue menengok ke arah Handhika yang tengah menulis sesuatu di bukunya. Gini ya, kenapa gak kamu aja sih yang nolongin Fakhri? Kan, kalian berdua akrab. Batin gue ke Handhika. Handhika lalu menengok ke arah gue, “Apelo lihat-lihat?”

“Gak, gak ada apa-apa kok Dik.” gue geleng-geleng kepala.

Seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan langkah kaki gue mulai ringan. Mungkin gue mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Ya, gue mulai terbiasa. Tapi belum benar-benar terbiasa. Gue masih dalam proses menyesuaikan diri.

[divider]

Hari itu ada yang berbeda dari kelas. Wali kelas gue, Bu Azalia, menggunakan kebijakannya sebagai wali kelas. Kebijakannya waktu itu adalah me-reshuffle kembali tempat duduk kami semua. “Yah, di reshuffle. Tapi gapapa deh, yang penting bisa jauh dari Fakhri supaya gak di mintain pertolongan terus,” batin gue, mencoba berpikir positif dari kegiatan ini. Selain jauh dari Fakhri, setidaknya gue bisa dekat dengan yang lainnya.

Karena gue paling kecil dan paling pendiem, jadi, gue di taruh di tempat duduk paling depan. Dekat dengan pintu kelas. “Berpikir positif Za! Berpikir positif! Pikirkan dampak positifnya ketimbang dampak negatifnya!” gue membatin. Kelas gue ini, terkenal banget karena paling ribut saat belajar dibanding kelas lainnya. Jadi, untuk menguranginya, wali kelas gue, Bu Azalia mengatur tempat duduk supaya keributan dapat dikurangin. Yang suka ribut saat belajar, ditaruh sama yang paling diem saat belajar. Dan saat itu, gue diposisikan duduk sama Tom.

Berbeda dengan Fakhri yang dari awal gue udah tau perwatakannya, si Tom ini, gue belum tau apa-apa tentang dia. Masih misterius gitu. Baru di pindahin ke depan, Tom masih bisa ngobrol dengan teman mainnya. Tom langsung mendapat teguran dari wali kelas. Karena waktu dia lagi ngobrol, wali kelas masih di depan. Bukan cuman dapat teguran dari Wali kelas aja, tapi Tom juga dapat cabe panas dari dua orang cewek yang duduk di belakang kami. Siska dan Putri. Oya, cabe panas itu maksudnya di cubit. Karena sehabis dicubit rasanya panas banget. Mangkanya gue namain cabe panas. Tapi yang bisa gue simpulkan saat itu juga adalah, Tom ini penggila game online. Sama seperti gue.

Gamer

Gue harap dengan kesamaan ini, gue bisa akrab dengan si Tom. Dan benar saja, gue bisa cepat akrab dengannya. Duduk dengan Tom ini, ternyata gak ada ruginya sama sekali. Berkat reshuffle dan adanya Tom, gue bisa akrab juga dengan Putri dan Siska.

Gak jarang, gue ikut nimbrung obrolan mereka. Hitung-hitung biar cepat akrab dengan mereka. Ternyata kalau dilihat-lihat, Putri ini cantik banget kalau pake kacamata. Kalau kemarin gue gak bisa melihat dengan jelas karena ruangan yang gelap dan kurangnya pencahayaan di ruang kelas, sekarang, gue bisa melihatnya dengan jelas. Didukung dengan pencahayaan kelas yang baik. Gak seperti kelas kami sebelumnya. Waktu itu juga, gue masih memendam cinta ini karena gak berani mengungkapkannya langsung ke Putri.

To be continue…



8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.