Melanjutkan tulisan gue sebelumnya di Update colongan, hari ini (kemarin) gue dan kawan-kawan masih mau take video untuk tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kemarin, setelah selesai memanfaatkan waktu luang yang hanya sedikit untuk sekedar mengupdate blog ini, gue langsung mendapat telpon dari temen.

“Hallo, Za. Kami udah di depan,” kata temen gue.

“Iya, sebentar…,” balas gue.

Lalu gue langsung pamit sama ibu gue untuk melanjutkan pembuatan film.

Kemarin saat proses take video, kami mendapat sedikit masalah. Temen gue ada yang gak datang ke lokasi karena katanya ada acara keluarga. Padahal dia harus hadir karena dia ikut dalam adegan saat berkenalan sama seorang cewek di sebuah cafe.

Sehingga kami harus membuat strategi baru supaya bisa mengakali tokoh yang gak hadir dalam adegan itu. Akhirnya dapat lah sebuah keputusan. Yang seharusnya selesai hari ini juga (kemarin), kami terpaksa harus membuat adegan baru lagi supaya temen gue yang gak datang ini perannya jadi banyak. Dan adegan baru itu baru di take hari ini.

Kelompok gue ini terbilang cukup kampret. Kenapa? Karena di kelompok ini gak ada pemeran ceweknya sama sekali. Semuanya berbatang. Gak ada yang sedap di pandang. Bahkan dari seluruh grup yang sudah di bagi-bagi, kelompok gue sendiri yang isinya berbatang semua.

Tapi gue gak begitu tau juga sih pembagian kelompok ini memang benar-benar adil atau udah di main-mainkan. Karena pembagian ini udah cukup lama. Sekitar bulan Maret lalu. Gue lihat grup lainnya punya pemeran cewek. Bahkan ada grup yang isinya mereka-mereka aja (orang yang memang suka berkelompok saat di kelas). Kan gak mungkin kalau mereka bisa satu kelompok, soalnya seingat gue pembagian grup ini di acak. Bukan di tentukan sendiri.

Tapi gapapa, justru karena pemerannya cowok semua yang asik. Kami bisa lebih leluasa. Begitu ingin take video gak pake yang namanya di ulang-ulang karena rata-rata kelompok gue ini mereka yang memiliki tingkat ke-pedean cukup tinggi.

Di film ini, kami sama sekali gak menggunakan (membaca) script. Kata-katanya pun kami karang sendiri. Sebenarnya sih ada, tapi kurang cocok scriptnya. Sehingga dari semua teks yang ada di dalam script, kami hanya mengambil bagian-bagian yang pentingnya aja. Misalnya lokasi dan tujuan dari si pemeran.

Di dalam script itu ada pemeran ceweknya. Karena kami semuanya cowok, jadi kami sempat mendapat sedikit masalah. Untung aja, temen gue si tungkai punya kenalan seorang cewek yang mau di ajak untuk beradu acting.

Baca juga: Update Colongan 1

 

Gue grogi banget saat ingin memberikan arahan sama cewek itu. Soalnya cakep banget. Gue berusaha supaya terlihat profesional. Tapi kata temen gue, gue kelihatan banget groginya saat memberikan arahan. Ya… Gue itu orangnya gampang banget grogi kalau berada di dekat cewek. Sebenarnya biasa aja sih, tapi karena dia memperhatikan gue dengan begitu serius, gue jadi ikutan grogi dan salah tingkah. Mau ngomong ini tapi jadinya gak jelas karena grogi.

Sutradara

Karena gue salah tingkah saat ingin memberikan arahan, temen-temen gue kesulitan memahami perkataan gue. Mereka bilang, “Kamu ngomong apa sih Za? Kok jadi gak jelas gitu? Apa jangan-jangan kamu grogi ngelihat Ayu?”

Jawaban yang paling tepat saat itu adalah “IYAAA!!” Gue grogi banget waktu itu! Akhirnya gue nyerah untuk memberikan arahan. Tugas ini gue serahkan sama sutradara pendamping.

[divider]

Memasuki hari ke-3

Di hari ke tiga ini, kami sepakat untuk kumpul lagi di cafe yang sama waktu take video kemarin malam. Janjiannya sih jam 4 sore udah kumpul di sana. Karena gue hari ini lagi gak enak badan, dan takut mengecewakan mereka, jadi sehabis shalat jumat gue langsung tidur untuk mengistirahatkan badan gue.

Bangun jam 3 sore, gue langsung bersiap-siap.

Gue menghubungi si Tungkai (Adit), minta untuk di jemput karena gue gak ada kendaraan. Iya, gue belum punya kendaraan karena rasanya tanggung. Dari rumah sekolah jaraknya gak jauh-jauh banget. Paling sekitar 2 km. Lulus gue mau meneruskan kuliah di Jakarta. Jadi buat apa gue beli kendaraan sekarang? Dan lagi, gue ini anak rumahan banget. Jarang keluar rumah.

Setibanya di lokasi, ternyata cafe masih di tutup dan baru akan di buka jam 17.30. Karena masih satu setengah jam lagi, jadi kami keliling sebentar. Menjemput si cewek karena dia juga harus hadir untuk take video malam ini. Setelah di buka, ternyata listrik pada saat itu padam. Si pemilik cafe gak punya genset. Kami terpaksa gelap-gelapan menunggu listrik nyala kembali.

Bosan menunggu listrik nyala, kami main kartu untuk mengusir kebosanan. Karena gue gak ngerti permainan kartu lain selain main cangkul, jadi saat itu kami main cangkul rame-rame. Lumayan asik juga sih walaupun mata sedikit sakit waktu melihat kartu yang ada di tangan.

Muncul masalah baru, temen gue si Ganang dan Reno ini pergi mau jemput saudaranya Reno. Ganang yang nemenin Reno menjemput saudaranya. Satu jam menunggu, Reno dan Ganang tak kunjung datang. Padahal listrik sudah nyala sejak satu jam yang lalu.

[divider]

Setelah semuanya lengkap, kami langsung melakukan take untuk adegan Aan dan Gusti saat tiba ke cafe. Di adegan ini gue juga ikut bermain. Mulai take sekitar jam sembilan dan selesai sekitar jam sepuluh malam. Prosesnya terbilang cukup cepat karena semua yang main dalam adegan ini orangnya pede semua. Kecuali gue. Tapi gue berusaha untuk pede.

Dan akhirnya malam ini film itu udah selesai. Tinggal di edit, dan besok kami sudah bisa melihat hasilnya. Semoga tugas Bahasa Indonesia tentang film ini sukses!

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.