Kemarin waktu gue lagi blogwalking, untuk yang kesekian kalinya gue terdampar di blognya Kresnoadi. Surem banget gitu kan kalimatnya, “Terdampar”. Karena udah terdampar duluan, mau gak mau gue harus ninggalin jejak. Itung-itung menjalin silahturahmi antar sesama blogger. Tapi bukan comment langsung cabut. Gue juga baca tulisan yang ada di dalamnya.

Jiwa gue ikut tertantang saat membaca tulisannya Kresnoadi. Sebenarnya udah cukup lama gue gak nulis sebuah cerita yang didalamnya ada perasaan gue. Iya, udah lama banget. Gue bahkan gak ingat kapan terakhir kali nulis cerita pake hati. Mungkin udah lama banget ya sampai gue sendiri lupa.

Postingan ini gue buat untuk mengikuti Tantangan Tiga Rasa-nya Kresnoadi. Sekali-kali nulis pake hati gapapa lah ya.

Yok, kita mulai aja.

—-

Tak bisa Memiliki – Cerita ini bermula ketika gue dan temen-temen sekelompok mau melakukan take video atau kalau dalam bahasa bekennya shooting untuk sebuah tugas mata pelajaran bahasa indonesia yakni membuat short movie yang berdurasi maksimal 20 menit. Pagi itu gue dijemput sama temen dengan menggunakan mobil. Gue membaca kembali skenario untuk film kami.

“Anggotanya cuman ini?” tanya gue pada temen-temen.

Waktu itu kami sedang ngumpul di sekolah. Beruntung hari itu sekolah juga lagi libur.

“Kayaknya cuman segini deh.”

“Gak ada pemeran wanita dong?” gue setengah panik karena kelompok ini semuanya cowok.

“Iya.”

“Oh sial. Kita butuh pemeran wanita!”

Gue menunjukkan skrip film.

“Udah, itu urusan gampang.”

Lalu kami menjemput pemeran cewek, yang katanya juga merupakan kenalan dari Adit. Hal yang paling nyebelin adalah ketika harus menunggu seorang cewek selesai berdandan. Cewek itu kalau dandan lama banget. Iya! lama banget! Nyebelin banget kan kalau harus nungguin cewek berdandan. Padahal sebelumnya udah di kasih tau kalau kami semua mau datang ke sana untuk menjemput dia.

Dari sekolah menuju rumah pemeran cewek ini memakan waktu hampir 30 menit. Dan setelah sampai di depan rumahnya si cewek, kami menunggu cukup lama di dalam mobil. Kalau dihitung-hitung, mungkin ada 30 menit kami menunggu di dalam mobil. Kalau ditotalin jumlahnya, cewek kalau dandan bisa sampai 1 jam. Buseet dah.

Gue udah lemes banget di dalam mobil. Mana belum sarapan pagi waktu itu karena terburu-buru. Padahal nyokap gue udah masakin nasi goreng special pagi itu. Oh shit. Gue jadi batal menikmati nasi goreng special buatan nyokap.

Gue depresi menahan lapar dan haus. Si cewek tak kunjung selesain juga dandannya. Gue mengatur kembali posisi duduk senyaman mungkin dan mulai membayangkan bagaimana kalau seandainya gue jadi cewek: Gue mandi lalu gosok gigi. Gosok-gosok badan sampai bersih lalu sehabis mandi ngelap badan sampai kering selanjutnya make kutang dan kancut berwarna pink dengan motif totol harimau trus pake lotion, rok dan baju semprot parfum sampai botolnya kosong, cukur kumis supaya kelihatan manis. Bentar… bentar… kok ada kumis?

Gampang banget kan? Kenapa bisa lama dandannya? Gue aja bentar kok… nulisnya.

“Yok, saatnya kita jalan.” kata Adit.

Gue membuka mata dan melihat seorang wanita cantik yang sedang menebarkan senyuman manisnya. Ketika gue terkagum oleh kecantikannya, saat itu juga gue bertekad ingin menafkahi cewek cantik yang sedang senyum lahir dan batin. Jerawat berwarna merah jambu di pipinya itu seolah menandakan bahwa ia siap untuk gue imamin ketika sholat maghrib lalu selepas sholat ia berkata “Kita ngaji yok, Pa?”

Kira-kira seperti ini mukanya Ayu. Cantik banget kan? Oya, ini adalah Manda, member JKT48.
Kira-kira seperti ini mukanya Ayu. Cantik banget kan?
Oya, ini adalah Manda, member JKT48. Saat pertama kali melihat Ayu, gue merasa kayak pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Dan betul Ternyata Ayu mirip sama member JKT48 yang bernama Amanda

Sip! Mantap Za!!!

—-

“Cut!” kata gue memberi perintah.

Bacaan terkait: Update Colongan

Saat take video, gue gak seorang diri. Ada sutradara satu lagi yang siap membantu. Sebenarnya sutradara sudah ada dari kru yang kami sewa. Tapi gue ingin belajar jadi sutradaranya langsung. Buat nambah-nambah ilmu.

Bang Jack sangat sabar sekali saat membimbing gue bagaimana caranya menjadi sutradara. Bang Jack ini baru aja lulus dari bangku SMK dan sudah beberapa kali terlibatan dalam tugas pembuatan film selama ia duduk di bangku SMK. Meski dia tak sehebat sutradara asli, tapi gue rasa ini juga udah cukup.

Supaya gue bisa deket dengan Ayu, gue nambah-nambahin adegan yang sebenarnya gak ada di dalam skrip. Sip! Good job Za!

Adegan pertama gue sama dia adalah ketika gue berkenalan sama Ayu di sebuah tempat bermain billiard. Dalam adegan itu, gue berusaha supaya terkesan cool di depan Ayu dan juga temennya. Tapi aslinya gue malah kelihatan seperti es kul kul. Itu loh, es yang terbuat dari Ubi, Bengkoang, Pepaya (kates) beku dan diolesi sama coklat.

Gak sesuai ekspentasi gue.

Tapi overall, shootingnya berjalan dengan lancar meski sebenarnya gue ada sedikit gugup saat bermain dengan Ayu.

Bacaan juga: Shooting Hari Terakhir

Selama proses shooting, gue jadi kurang fokus karena terpukau oleh kecantikan Ayu. Beberapa kali gue ditegur sama Bang Jack.

“Hoi Za,” Bang Jack menepuk pundak gue.

“Eh, iya bang?”

“Yang bener dong jadi sutradaranya.”

“I..ya bang.”

Gue berusaha untuk fokus kembali.

—-

Shooting hari ke-4

Lagi-lagi gue dijemput sama temen pake mobil. Udah kayak boss aja ya gue. Nelpon anak buah trus minta jemput. Tapi emang bener sih. Di sekolah gue di panggil bos kecil. Sementara itu Adit dipanggil bos besar. Buset. Gue jadi merasa terhina waktu dapat panggilan ‘boss kecil’. Tapi anehnya, bos besar alias Adit ini patuh sama gue. Semuanya menaruh hormat sama gue. Tak terkecuali dari kelas-kelas lain. Gue sebagai boss yang berbadan kecil gagal terhina. Gue malah merasa kayak Kang Mus di Preman Pensiun 2. Meski berbadan kecil, tapi disegani oleh seluruh orang. Terutama anak buahnya.

“Mbak, nasi gorengnya satu, ya.” ucap gue pada si pelayan.

“Ada lagi yang dapat saya bantu mas?”

Gue melihat daftar minuman yang tersedia di cafe tempat kami akan mengambil adegan.

“Sama Pepsi floatnya satu ya.”

Pelayan cafe itu pergi setelah mencatat semua pesanan kru dan pemain.

—-

Di hari terakhir itu gue rencananya mau menyatakan cinta pada Ayu. Tapi gue menunggu moment yang tepat untuk menyatakan cinta itu. Seluruh pesanan sudah tersedia di atas meja. Kebetulan waktu itu posisi gue berhadapan langsung sama Ayu. Tak lama kemudian temen gue datang dan duduk disebelahnya Ayu.

“Maaf aku terlambat boss” ucap Bima.

“Santai aja,” kata gue. “Pesan dulu gih makananmu.” gue melanjutkan.

“Kamu udah makan?” tanya Ayu.

“Belum, baru juga mau mesan.”

Lalu Ayu menyodorkan makanannya pada temen gue sambil berkata, “Makan sama aku aja, aku lagi diet.”

Si Ayu kemudian menyuapi Bima di depan kami semua. Sontak semuanya pada ‘cie-cie-in’ Ayu yang lagi nyuapin Bima.

“Oh iya temen-temen. Mohon perhatiannya sebentar.” kata Bima.

Semuanya diem dan mendengarkan.

“Terima kasih temen-temen. Terutama buat si boss kecil kita, Reza, karena berkat dorongan kalian semua aku akhirnya bisa mengungkapkan cintaku pada seorang gadis yang selama ini sering aku sebut saat curhat.”

Gue tersenyum.

“Kemarin tepatnya, aku mengungkapkan cinta itu padanya.”

Semuanya bertepuk tangan dengan keberanian Bima.

Bima melanjutkan.

“Dan teman-teman, terima kasih. Akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku pada seorang wanita yang tlah membuatku jatuh cinta kepadanay. Ia adalah Ayu.”

Semuanya kembali memberikan tepuk tangan yang cukup meriah pada si Bima atas keberaniannya menyatakan cinta langsung pada Ayu. Tapi kali ini gue gak ikut memberikan tepuk tangan.

Rasanya bener-bener jleb banget. Ternyata gue terlambat untuk mengungkapkan perasaan ini pada Ayu. Bima, yang selama ini sering curhat tentang orang yang ia sukai, ternyata ia curhat tentang Ayu. Dan bodohnya gue gak berani mengungkapkan saat itu juga pada Ayu. Ketika hari pertama shooting. Aneh memang, si Bima sering curhat tentang cewek. Ternyata itu penyebabnya. Pantes, semenjak ia kenal sama Ayu, dia jadi sering curhat sama gue.

“Makanan ini semua biar aku yang bayar!” kata Bima, mantap.

Semuanya kembali bersorak. Minuman yang sudah gue pesan sedari tadi tak gue sentuh sedikit pun. Bahkan nasi goreng yang gue pesan pun seolah tak ada rasanya sewaktu gue makan. Entah gue sedang gak nafsu makan atau memang gue lupa baca doa sebelum makan, pokoknya nasi itu tak memiliki rasa sedikit pun. Akhirnya nasi goreng gue dilahap habis sama Derry. Gelas minuman yang gak gue sentuh diserobot juga sama Adam. Gue cuman bisa melihati temen-temen itu melahap habis makanan dan minuman punya gue.

Bodohnya gue waktu itu. Udah dibayarin tapi gak gue makan.

Andai waktu bisa di putar kembali, gue mau melahap habis nasi goreng dan pepsi float itu karena saat sedang menulis cerita ini gue menulisnya dalam kondisi lapar. Membayangkan pun membuat rasa lapar gue jadi makin ganas. Oh perut, bersabarlah.

Tapi bukan itu masalahnya goblok! Kok gue ngomongin makanan! Padahal bukan itu yang sedang dibahas saat ini! Yang sedang dibahas saat ini adalah perasaan men, perasaan! Begini deh derita nulis dikala perut sedang keroncongan. Huftt…

Andai waktu bisa diputar kembali. Gue mau menyatakan cinta gue pada Ayu pada saat proses shooting di hari pertama itu juga. Tapi gue sadar. Gak mungkin kalau gue langsung nembak Ayu padahal gue sendiri baru kenal sama dia. Gue berusaha untuk menjalin kedekatan sama Ayu melalui chatting di bbm. Terasa dekat memang. Dan gue bertekad di hari terakhir shooting ini mau nembak dia. Tapi apa daya. Ternyata gue udah keduluan sama Bima.

Pulang shooting, gue langsung tidur karena udah capek banget. Paginya, gue ngecek ada bbm dari Ayu. Ayu mengucapkan terima kasih sama gue. Sambil menutup bbm gue berkata, “Sama-sama, Yu. Semoga kamu bahagia sama Bima.” tanpa membalas pesan dari Ayu. Dan sejak hari itu juga, gue gak pernah chatting lagi sama Ayu sampai saat ini.

Pernah beberapa kali dia mengirim pesan singkat melalui bbm. Gue gak pernah membalas bbm itu dari Ayu karena gue takut kalau nanti gue jatuh cinta sama pacarnya temen gue sendiri. Gue gak mau hal itu terjadi. Demi persahabatan, dan juga perasaan ini, gue menghapus Ayu dari kontak bbm saat itu juga.

Semoga kamu bahagia bersama Bima, Yu.

—-

Dan itu lah cerita yang gue tulis pake hati. Sebenarnya gue cukup sering mengalami gagal cinta. Tapi pengalaman gagal itu terus gue pendem di dalam hati. Tak ada seorang pun yang tau mengenai kegagalan gue ini. Tapi gapapa. Sekali-kali mungkin gue perlu menceritakan pengalaman gagal ini di dalam sebuah My virtual diary’s.

Jangan lupa untuk like dan Follow gue di Twitter dan G+ ya. Kalau punya pengalaman gagal cinta seperti gue di atas, kalian boleh menceritakannya di comment box atau lewat email.

Akhir kata, jangan terlalu malu untuk menyatakan perasaan lo pada orang yang lo sukain. Karena sewaktu-waktu orang yang lo sukai itu bisa direbut oleh orang lain. Bahkan gak menutup kemungkinan orang yang sudah terikat pada suatu hubungan, juga bisa kehilangan orang yang ia cintai karena direbut oleh orang lain.

15 KOMENTAR

    • Hmm.. ada kok..
      penglihatan (waktu gue ngelihat si cewek), pengecap (waktu gue merasakan kalau nasi goreng yang gue makan terasa hambar), pendengar (ketika gue dan temen-temen mendengarkan ucapan si Bima) :))

BERIKAN PENDAPAT ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.