Selasa, Juli 23, 2024
HomeDaily LifeMusibah Sebelum Lebaran

Musibah Sebelum Lebaran

on

Hi semuanya! Gimana kabar kalian hari ini? Sehaaat? Mantaap! Di sini, kabar gue luar biasa baik. Pada postingan terbaru kali ini gue ingin berbagi cerita. Sebuah cerita tentang musibah sebelum lebaran yang gue alami beberapa waktu lalu.

Pada dasarnya, tidak ada yang tahu pasti kapan musibah akan tiba dan tidak ada yang bisa terhindar darinya. Salah satunya adalah gue yang mendapat cobaan beberapa hari sebelum lebaran. Musibah yang gue alami saat itu ialah laptop gue mati total. Karena mati total, laptop gue tidak bisa berfungsi sama sekali. Pengalaman tersebut akan gue bagikan pada postingan kali ini. Penasaran? Begini ceritanya…

Saat itu gue baru saja pulang sehabis dari jalan-jalan pagi bersama bokap. Setibanya di rumah, gue menggunakan sisa tenaga yang gue miliki untuk mematikan laptop di atas meja bundar warna cokelat. Setelah memastikan laptop itu dalam keadaan tidak nyala, gue berjalan menuju kamar untuk menyambung tidur.

Gue ingat persis, saat itu tanggal 20 April 2023 di mana kantor-kantor sudah mulai menjalani cuti bersama lebaran idulfitri. Karena sedang libur, jadi gue bisa tidur kembali tanpa dihantui rasa bersalah sebab malamnya gue tidak mendapatkan durasi dan kualitas tidur yang cukup karena alergi gue sempat kambuh.

Baru tidur beberapa jam, gue tak sengaja terbangun 30 menit lebih awal dari waktu yang gue inginkan. Gue bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Sehabis dari kamar mandi, gue berjalan menuju meja bundar tempat di mana laptop gue berada. Rencananya hari itu gue akan main game Valorant. Untuk durasi mainnya sendiri, gue membatasinya sampai jam 3 sore, karena setelah itu gue ingin tidur sebentar dan setelahnya ingin pergi mencari takjil untuk buka puasa.

“Nih laptop ada masalah apa deh?” ucap gue, setelah beberapa kali menekan tombol power. Gue memerhatikan bagian lampu indikator power tak menyala sama sekali setelah tombol powernya ditekan.

Gue merasa sepertinya ada yang tidak beres sama laptop gue. Tapi, gue masih mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja, baterainya sedang habis sehingga lampu indikatornya tidak mau menyala. Dengan pikiran tersebut, gue mencoba menghubungkan charger laptop ke stop kontak. Hati kecil gue berharap, indikator daya baterainya menyala setelah di sambungkan ke listrik.

Nahasnya, indicator daya baterainya tidak menyala sama sekali bahkan setelah dihubungkan ke listrik. Gue masih mencoba untuk berpikir positif. “Barangkali setelah menekan tombol power dengan kondisi charger terhubung, laptopnya bisa langsung nyala,” harap gue.

Entah kenapa rasanya saat itu tombol power terasa seperti lebih menyeramkan. Entah ke mana nyali gue saat itu. Mungkin nyali gue hilang dibawa kabur oleh swiper si pencuri dalam kartun Dora the Explorer. Karena tidak punya keberanian, gue meninggalkan laptop di atas meja selama 1 jam. Sambil berharap hadirnya keajaiban di dalam ruangan tersebut.

Satu jam berlalu, gue mencoba beranikan diri untuk mencoba menyalakan kembali laptop gue yang ada di atas meja. Segala macam doa gue coba rapal sebelum menekan tombol power itu.

Layar hitam itu merengut keceriaan pada air muka gue dan mendatangkan kehampaan selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu ke depan karena gue tidak tahu apakah laptop ini masih bisa diselamatkan atau tidak.

Akhirnya gue menyimpan laptop itu ke dalam koper. Setelah menyimpannya, gue mencari alamat tempat service resmi di Kota Bengkulu. Menurut dugaan gue, yang bermasalah dari laptop ini ada dibagian baterai laptopnya, sehingga membawanya ke tempat service resmi adalah pilihan yang tepat karena biasanya di tempat tersebut menjual alat atau komponen asli. Pun jika tidak tersedia, komponennya bisa dipesankan langsung dari Jakarta.

Setelah mendapatkan alamatnya, gue langsung mendatangi tempat tersebut untuk menanyakan apakah mereka menjual baterai laptop seperti punya gue. Namun sialnya, mereka tidak menjual baterai laptop yang gue cari. “Memang laptopnya kenapa, bang?” tanya petugas tersebut.

Gue menceritakan detail masalah pada laptop gue. Setelah mendengar cerita lengkapnya, petugas tersebut merespon, “kalau masalahnya seperti itu, ganti batere baru nggak menjamin laptopnya bisa nyala, bang. Kemungkinan rusaknya di bagian komponennya.”

“Kalau service di sini, kira-kira biayanya berapa ya mbak? Bisa ditunggu nggak?” tanya gue.

“Belum tahu bang. Kita perlu cek dulu kerusakannya di bagian mana, baru setelahnya bisa kita perkirakan biayanya berapa. Untuk kasus laptop mati total, nggak bisa ditunggu bang.”

Puas bertanya, gue berjalan ke luar sambil menimbang apakah gue akan service di sini saja, atau sekalian service di Jakarta. Yang menjadi pertimbangan pertama gue sebenarnya adalah kemampuan petugas dari tempat service. Pertimbangan kedua yaitu kelengkapan alat atau komponennya jikalau memang ada kemungkinan untuk ganti komponen baru pada laptopnya.

Setelah menimbang dua hal tersebut, gue pikir lebih bijak jika gue service di Jakarta. Toh, 3 minggu lagi gue akan pulang ke Jakarta. Soal hiburan, gue bisa menggantinya dengan nonton dari hp atau sekadar baca buku.

Satu minggu setelah pulang ke Jakarta, gue membawa laptop kesayangan gue itu ke pusat service di daerah Mangga Dua, Jakarta. Setibanya gue di sana, petugasnya memberitahu bahwa pengecekan laptopnya membutuhkan waktu sekitar 5 hari kerja.

Penerbangan Menuju Jakarta
Penerbangan Menuju Jakarta
sumber gambar: Pixabay from Pexels

Lama juga, pikir gue saat itu. Tetapi jika laptop gue masih bisa di selamatkan sih, tidak masalah, Menunggu 5 hari pengecekan menurut gue itu masih oke, namanya juga tempat service pusat. Yang service pasti banyak banget.

Masuk ke pembahasan kemungkinan yang menyebabkan laptopnya tidak menyala. Petugas memberitahu bahwa besar kemungkinan kerusakannya ada pada motherboard laptop gue. Kemungkinan lainnya ada pada tombol power, dan juga batere laptopnya.

Begitu membahas estimasi biaya, petugas itu memberitahukan bahwa estimasi biayanya bisa sangat bervariasi, tergantung dari tingkat atau area terjadinya kerusakan. Untuk kerusakan pada batre, dikatakan estimasinya hampir sekitar 1 juta. Itu bukan service, tetapi langsung ganti batere baru. Gue masih oke dengan estimasi tersebut, karena memang ganti batere baru dan sisi baiknya laptop gue bisa menyala lebih lama.

Untuk kerusakan pada keyboard, estimasi biayanya sekitar 1 juta juga. Dan untuk kerusakan pada motherboard, estimasi biayanya seharga laptop gaming keluaran terbaru, yakni 15juta.

Ya, estimasi biaya ganti motherboard ini lah yang membuat gue sangat terkejut. Kalau laptopnya gue tinggal dan tiba-tiba kena tagihan 15 juta, bisa amsyong juga, pikir gue. Namun, petugas tersebut langsung menenangkan gue, bahwa mereka tidak langsung melakukan tindakan sebelum mendapat konfirmasi dari pemilik.

Mendengarnya gue jadi lebih sedikit tenang. Karena setidaknya gue diberi pilihan untuk lanjut atau tidak. Lalu petugas itu memberitahukan juga, bahwa jika gue tidak setuju untuk dilakukan tindakan, gue bisa minta cancel dan gue hanya dikenakan tagihan sebesar 50 ribu untuk biaya cancelnya.

Akhirnya gue setuju untuk meninggalkan laptop gue di tempat service tersebut dan petugasnya memberikan gue semacam dokumen untuk ditandangani. Setelah menandatangani sebanyak 3 lembar, gue berjalan ke luar untuk pulang ke kosan.

Baru beberapa jam gue pulang dari tempat service, gue dihubungi oleh tempat service tersebut. Tim service itu memberitahukan bahwa kerusakannya ada pada bagian motherboard laptop gue. Yang artinya, gue harus merogoh gocek sebesar 15jt untuk tindakan penggantian motherboardnya.

“Bagaimana, pak? Mohon konfirmasinya apakah laptopnya akan kita beri tindakan atau tidak?” tanya petugas di ujung sana. Meski sudah tahu estimasi biaya untuk kerusakan pada motherboard, gue tidak dapat mengendalikan laju jantung gue saat itu.

Kerusakan pada motherboard laptop
Kerusakan pada motherboard laptop
sumber gambar: Pixabay from Pexels

Dengan tangan dan suara bergetar, gue berusaha memberikan respon atas pertanyaan petugas itu. “Nggak, pak. Nggak usah ditindak.” Tutup gue. Bersamaan berakhirnya panggilan tersebut, selera makan gue hilang begitu saja.

Semangkuk bakso yang gue idam-idamkan selama beberapa hari terakhir, menjadi begitu dingin karena tak tersentuh oleh gue. Memang benar, laptop gue sudah cukup berumur dan membeli laptop baru adalah keputusan yang paling tepat.

Tapi satu sisi, gue belum siap untuk berpisah sebab gue merasa laptop ini sudah cukup berjasa karena menemani gue menghadapi pahit manisnya hidup, melewati fase suka dan duka.

Itu adalah hari paling menyedihkan dalam hidup gue. Gue tidak bisa menyelamatkan laptop yang sudah menemani gue selama beberapa tahun terakhir. Gue juga belum dapat menggantikannya dengan yang lain karena nilai history yang dimiliki oleh laptop itu.

Demikian lah cerita tentang musibah yang gue dapatkan sebelum lebaran. Memang benar, perpisahan paling berat itu adalah berpisah dengan sesuatu yang sudah sangat dekat dengan kita.

Kalian punya kisah sulit berpisah dengan barang yang paling dekat dengan kalian? Gimana rasanya? Yuuk, share di kolom komentar!

P.S: Tulisan ini akan berlanjut ke part dua. Linknya akan gue cantumkan setelah part 2 nya selesai gue tulis, ya!

Reza Andrian
Reza Andrianhttps://rezaandrian.com
Hi, nama gue Reza. Gue seorang Blogger dan saat ini sedang meniti karir dibidang Project Management di sebuah perusahaan Swasta Jakarta.

Hey, jangan pergi. Kamu perlu baca ini

1 KOMENTAR

  1. Wasaaah, kalo 15 juta, better beli laptop baru ya mas . Aku juga emoh bayar segitu hanya utk motherboard .

    Kalo udh berumur, mau ga mau sih harus siap dia rusak dan mati total.

    Diingat2, aku kayaknya ga ada yg sampe segitunya sih ama barang. Mungkin krn aku ada kebiasaan utk menentukan usia maksimal dari barang2ku. Kayak hp, maksimal 3 tahun, trus ganti. Laptop 5 tahun. Mobil 7 thn. Lewat dari itu, kalopun msh bisa dipakai, tapi biasanya aku ttp ganti, krn mikirin memori yg udh mulai penuh , kinerja ga sebagus dulu, dan lain lain.

    Jadi ga terlalu sampe gimana2 sedihnya ama
    barang pas rusak atau harus ganti

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Enter the captcha *

Sebelum kamu pergi, tinggalin komentar dulu, ya!
Setiap komentar yang kamu tinggalkan selalu aku baca dan itu sangat berarti untukku agar terus semangat dalam menulis. Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Reza Andrian
Hi, nama gue Reza. Gue seorang Blogger dan saat ini sedang meniti karir dibidang Project Management di sebuah perusahaan Swasta Jakarta.
577FansSuka
688PengikutMengikuti
893PengikutMengikuti

Belum Gaul Kalau Belum Baca