Menertawakan Canggung

Pada selasa siang. Aku tidur meringkuk di kamar. Nonton instagram story orang-orang. Menertawakan mereka yang sedang ada kelas. Bosan. Aku pergi ke warung. Bermaksud membeli makanan. Berharap dapat mengobati lapar.

Sekembalinya dari warung. Aku menghabiskan waktu dengan nonton. Nonton kartun. Rasanya udah lama banget aku meninggalkan aktivitas yang satu ini. Sejak mengenal dan suka dengan drama korea. Siang itu film berjudul Cars 3 terlihat menarik dibanding film lainnya. Aku putar dengan resolusi paling bagus; paling tinggi. Aku duduk santai seperti anak kecil menunggu film kartun di hari minggu. Aku duduk di depan laptop sambil menyaksikan film pilihan.

Rice cookerku berbunyi. Memancarkan cahaya warna hijau. Nasi yang kumasak udah mateng. Siap untuk dilahap. Aku membuka bungkusan berisi makanan dari warung. Filmnya aku pause sebentar biar nggak ketinggalan satu adegan pun. Makan sambil nonton film adalah kegiatan favoritku di hari libur; sejak SMP. Bilamana hari libur datang, aku selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan hal-hal yang aku suka.

Handphoneku berdering ketika tersambung dengan jaringan internet. Sebuah pesan masuk berbunyi, Za, lu di mana?

Aku baca sekilas. Lalu fokus lagi pada film yang sedang kuputar. Selesai makan, aku membaca pesan masuk. Dari Joe ternyata. Ada apa jam segini dia nanyain lagi di mana?

Kos. Kenapa? Balasku singkat.

Jadi nemenin gue, nggak? Tanyanya

Otakku merespon bunyi pesan tersebut dengan cepat. Aku teringat dengan janjiku semalam. OH, tentu. Maunya kapan? Aku membalas. Jangan siang. Mager. Agak sorean aja. Jam setengah tiga.

Setelah sepakat, aku langsung tidur siang. Sekitar 45 menitan. Aku bangun ketika lagu kesukaanku berbunyi. Melirik jam di pojok kanan layar. Menyalakan lampu, lalu bergegas mandi. Rencananya aku nggak mau mandi sore itu. Tapi yasudahlah. Sore itu kami akan bertemu dengan seseorang. Rasanya agak kurang pantas saja jika aku datang dengan penampilan kusut masai. Aku mengunci pintu lalu menyalakan shower.

Aku melirik arloji di atas meja. Sementara Joe menunggu kabar dariku. Sudah, aku membalas pesan yang dia kirim. Lalu menambahi dengan titik lokasi penjemputan. Dia mengerti, lalu bergegas menuju tempat yang kumaksud.

Aku masih ingin mengeringkan rambut yang setengah basah. Tapi yasudahlah. Toh juga nanti kering karena angin. Joe mengabari kalau dia udah di bawah. Aku bergegas mengunci pintu kamar lalu menuruni anak tangga. “Joe!” sapaku saat dia melintas di depan kos dengan Vixion merahnya.

Tibalah kami di sebuah tempat bernama pasar kembang. Joe memarkirkan motornya tepat di sebuah toko bunga di pinggir jalan. Dia turun dari motor dan aku mengekor dari belakang. “Yang ini berapa, Mas?” tanya dia.

Si pemilik toko kembang menyebut harga dari bucket berisi 20 tangkai bunga mawar merah yang ditunjuk pelanggan. “Nanti di tambah pernak-pernik.” Si pemilik toko kembang menyakinkan.

“Gimana, Za?” Joe menanyakan pendapat lelaki di belakangnya yang sedang duduk di sebuah kursi kayu. Aku mengangkat kedua bahu tanda tak tahu. Ya, aku sendiri belum pernah menghadiahi seorang perempuan dengan satu bucket bunga sehingga ketika dia menanyakan pendapat, aku hanya merespon dengan mengangkat kedua bahu.

Kami berpamitan dengan si pemilik toko kembang. Menyambangi sebuah minimarket di sebelah toko kembang. Tadinya aku mengira dia mau beli minum. Yang ada malah mendatangi mesin ATM. “Kalau mau, tanya-tanya aja dulu sampai nemu yang cocok.” Kataku ketika kami melangkah keluar dari minimarket. Dia setuju, lalu mendatangi toko demi toko di seberang jalan. Setelah mampir di beberapa toko, kami kembali lagi ke toko pertama. “Yang tadi aja deh, mas. Tapi 15 tangkai.” Kata Joe.

Tangan si pemilik toko bergerak lincah menyusun kembang—merangkainya sehingga terlihat indah. Aku terkagum-kagum dengan kelincahan si pemilik toko saat menghias kembang pesanan pelanggan. Rencananya aku ingin merekam aktivitas merangkai kembang itu. Kemudian teringat bahwa ini misi rahasia. Sehingga aku membatalkan niat merekam. Lain waktu aja. Ini misi rahasia, aku membatin.

Setelah membeli kembang. Kami berdua menaiki kuda besi warna merah. Kuda besi yang kami naiki membelah macetnya Jakarta. Masuk ke sebuah gapura di sebelah rumah makan padang. Bertemu dengan gang sempit yang hanya bisa dilintasi oleh satu buah mobil. Tibalah kami di sebuah rumah. “Selamat datang di kost-kostan,” aku meniru pelayan kastil. Joe sibuk dengan telepon genggamnya. Lalu tersenyum kecut dan berkata, “dia di kost temannya, Za.”

“Waktunya show off, Joe.” aku membalas. Kuda besi kami yang jinak bergerak melewati gang-gang sempit. Membelah jalanan Jakarta yang cukup mengkhawatirkan. Berhentilah kami di depan sebuah rumah berpagar putih. Aku turun dari kuda besi sedang Joe tetap di atasnya.

“Halo Rez, Halo Joe,” sapa teman kami dari jurusan yang berbeda. Dia mengenakan penutup mulut waktu itu. Dari mata dan suaranya aku tahu kalau itu teman kami dengan jumlah pengikut Instagram terbanyak di kampus. Itukan followers 25k, ucapku lirih . Dia cukup imut dan tentu saja manis. Tak heran bila jumlah pengikutnya bisa sebanyak itu.

Tak lama setelah teman kami itu pulang ke kostnya. Orang yang kami tunggu-tunggu datang. Dia lewat, menyapa kami berdua. Dia tidak sendirian, dia bersama dengan temannya yang juga cantik. Tentu, aku tahu nama teman di sebelahnya. Waktu itu aku pernah berkenalan dengan temannya di sebuah minimarket dekat kampus. “Halo Rez,” sapa temannya.

“Halo—!” maaf aku nggak bisa menyebutkan namanya di sini.

“Kami duluan ya,” orang yang kami berdua tunggu-tunggu sejak tadi ingin berpamitan. Aku dan Joe saling bertatapan. Perempuan itu menghentikan langkah melihat ekspresi kami berdua yang sedikit aneh. Aku melayangkan sandi morse di udara. Namun sepertinya Joe tidak memahami kode-kode yang kuhembuskan ke udara. Perempuan itu masih diam di tempat dia berdiri.

“Joe.” Kataku. Dia turun dari atas kuda besi. Mengambil bungkusan hitam yang digantungkan pada setang motor. Maju beberapa langkah. Kini dia persis di depan perempuan yang kami tunggu-tunggu sejak tadi. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari bungkusan hitam. Menampakkan bunga-bunga indah.

Bunga untuk wanita spesial
credit to: pexels.com

Aww, so sweet… teman dari perempuan yang kami tunggu sejak tadi bertepuk tangan. Tersenyum gemas menyaksikan adegan ini. Begitu juga denganku yang duduk di bangku penonton. Gemas lalu melayangkan tepuk tangan.

Lebih serius dari itu. Diam-diam canggung mengambil peran. Membuyarkan skenario yang sudah disusun dengan baik oleh lelaki dengan sebucket bunga ditangannya. Senja berwarna manja berubah jadi kelabu. Suara bising kendaraan telah beku. Yang terdengar hanya suara kehampaan yang ditiup angin.

Perempuan itu menerima bunga dari tangan lelaki bertubuh besar di depannya. Tersenyum seperti anak kecil, mengudarakan terima kasih. Kami berdua diam-diam meraih ponsel dari dalam saku celana. Siap mengabadikan momen ini dengan mata ponsel. Kemudian hatiku berbisik, jangan di foto!

Aku menuruti. Menyimpan ponsel ke dalam saku celana. Pertanyaanku terjawab. Tidak seharusnya momen canggung seperti ini diabadikan lalu di sebar ke media sosial sebagaimana yang dilakukan anak muda zaman sekarang: rela mengulang adegan yang sama demi sebuah konten media sosial. Adegan boleh jadi sama, tapi tidak dengan momennya.

Di jalan pulang. Kami tertawa di atas kuda besi warna merah. Menertawakan canggung yang hinggap tanpa izin. Orang-orang melihat kami berdua. Kami tidak peduli dengan tanggapan mereka. Kuda besi yang jinak itu berhenti di depan sebuah kost. Aku turun. Lalu tertawa. Begitu juga Joe. Dua orang aneh tertawa seperti anak kecil. Sore itu berakhir singkat. Merayakan keberhasilan Joe. Bukan dengan pesta pora; tetapi dengan menertawakan canggung yang hinggap malu-malu.

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



7 COMMENTS

  1. Gaya bhsanya enak bner, Za, dibacanya. Seruuuww.
    Duuh, jd ini tuh kyak behind the scene nembak seorang wanitaa. Uwuwuw. Soswiitt bgddd.
    Hebat lu bisa menahan diri seharian buat gak ngerekam dan ngeshare buat dijadiin snapgram. Kerenn2.
    Momen kyak gini sih emg lebih bagus diabadikan di dlm memori otak sndri, atau diabadikan mnjd tulisan kyak gini. Hihi. :D
    Sekali lg, sweet bgt lah ini pokoknya. :D

  2. Saat mendekati lebih gampang, saat menjalani dan mempertahankan yang sulit.
    Terlebih jika kita sudah temukan wanita yg pas di hati.
    Namun tak seperti harapan.
    But. Don’ stop!
    Perjuangan belum berakhir.
    2 pilihan, bertahan atau pergi cari lagi.
    Jika ingat perjuangan saat mendapatkan maka jawabanny akan bertahan dan memperjuangkan kembali.

  3. Your Blog all Post information is very unique and good for reader because when i have read your blog looks very impressive for me. I want to say thanks to you. Most importantly I have bookmark your site for future updates.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.