Seperti Orang Bodoh

“Aku manggil kamu Tendo aja, ya?” Jadi ceritanya dimulai ketika gue duduk dibangku SD.

Mata gue bekerja bagai mesin scanner, memindai seisi ruangan. Gue nggak sendirian. Sedaritadi gue perhatiin, paman sibuk mengibas-ngibas badannya dengan kaus oblong bertuliskan Cressida.

Klimaksnya ketika nyokap gue ngedumel soal tahi kucing yang berserakan di dekat rak sepatu. “Tapi kan mereka masih anak-anak, mah,” bela gue.

“Iya, mama tau mereka masih anak-anak. Tapi tolong bereskan tahinya atau dibuang saja!”

“Ya nggak bisa gitulah, Ma.”

“Buang atau mama potong uang jajan kamu?”

“Oke. Aku buang.” Curang. Mengancam dengan uang jajan.

Lima menit kemudian, tangan gue memeluk erat kotak kardus bekas.

Setelah berpikir keras, paman menyarankan untuk ninggalin mereka di kompleks perumahan. “Mereka lebih aman di sini. Jarang ada kendaraan yang lalu-lalang.” Kata paman.

“Iya juga ya. Paman pintar!” seru gue. Gue turun dengan perlahan, berjalan sedikit ke dalam. “Maafkan abang ya, Cing. Abang terpaksa ninggalin kalian di sini.” Ucap gue lirih. Gue mundur, lalu perlahan menghilang dalam sunyi.

***

Gue menjatuhkan diri ke atas ranjang. Semakin dipikir, semakin gue ingin nyalahin diri sendiri. Ditengah penyesalan itu, telinga gue menangkap suara anak kucing. Kok bisa ada suara anak kucing, sementara anak kucingnya udah gue buang? Disekitar sini juga nggak ada kucing yang lagi hamil. Ah, paling salah dengar, pikir gue. Suara itu terdengar lagi. Timbul pertanyaan di kepala gue. Gue nggak punya pilihan selain nyari tahu sendiri jawabannya. Setelah gue cari tahu, ternyata betulan ada anak kucing. Dan nggak ada kaitannya sama sekali dengan hal-hal mistis seperti arwah penasaran.

Kalau malam Jumat tuh gue suka mengaitkan segala sesuatunya dengan hal mistis. Dulu, pas gue putus, gue nyalahin makhluk gaib. INI PASTI ULAH SETAN NIH!!! PASTI SETAN YANG MENGHASUT DIA BUAT MUTUSIN GUE!!!

Anak kucing itu nampak lucu dengan satu totol hitam dibagian kumis sebelah kirinya. Bulunya putih dan halus bagai kulit aktris. Hitam pada bagian kepala dan ekor.

Aku manggil kamu Tendo aja, ya?

Setelah gue asuh (lho?), ternyata merawat anak kucing tuh nggak serepot yang gue pikirin. Dasar guenya aja yang bego, karena langsung ngerawat 5 anak kucing sekaligus.

***

“Mau ikut nggak, bang?”

“Kemana?”

“Buang sampah,” kata adik gue.

“Nggak ah,” jawab gue lagi seru sama dunia sendiri.

Sepulangnya dari membuang sampah, adik gue membawa seekor anak kucing betina yang dia ambil dari tempat penampungan sampah. Hal pertama yang dilakukan sama kucing itu ketika di rumah, dia ngepipis-in CPU gue. Kampret, maki gue dalam hati.

Tiba-tiba…

“Bang, tolong bersihkan kucing ini,” pesan bokap.

“Untuk apa nambah kucing lagi? Kan udah ada Tendo,” kata gue.

“Katanya adek juga mau punya kucing sendiri.”

“Halah… paling gayanya aja itu, Yah.”

“Pokoknya tolong mandiin, nanti Ayah kasih uang jajan.”

“Siap, Bos!”

“Oya! Jangan lupa lap CPU-nya dulu. Nanti korslet.”

Kampret lu cing! Maki gue.

***

“Tendo mana, Bang?” tanya adik gue.

“Nggak tahu. Abang jarang di rumah.”

“Tendo udah tiga hari menghilang!”

Gue panik. “Tendo mana, Mah? Udah tiga hari lho nggak pulang-pulang!” tanya gue.

“Nggak tahu. Lagi main di luar paling.” Jawab nyokap.

Intuisi gue mengatakan kalau Tendo minggat dari rumah. Tapi kenapa? Kenapa dia bisa minggat?

Kalau gue pikir-pikir lagi, sejak Cica (kucing adik gue) tinggal di sini, jatah makan Tendo jadi berkurang karena selalu direbut sama Cica. Tidurnya jadi nggak nyenyak karena terus dijaili sama Cica.

Baca Juga: Ditikung Sama Teman

Suatu hari, dia pulang dalam keadaan pincang. Kakinya bengkak. Pas gue lihat, ada luka pada bagian kakinya yang bengkak itu. Mungkin luka itu jadi infeksi karena didiemin. Gue nggak punya sedikit pun waktu membawanya ke dokter hewan untuk diobati. Sekalipun ada, gue keasikkan main dengan sahabat di sekolah. Sementara sahabat gue di rumah, Tendo, kondisinya sedang buruk. Kehadiran Cica di rumah, membuat dia kurang mendapat perhatian.

Mungkin… dia pergi karena mengira dirinya sudah tak dianggap lagi karena sudah cukup tua. Itu artinya, dia cemburu.

“Doain abang lulus ya, Ten?” ucap gue pagi itu, sekitar tiga hari yang lalu. Dan gue nggak tahu kalau itu adalah terakhir kalinya gue bisa melihat dan ngobrol dengannya.

Pikiran-pikiran aneh menyerang kepala gue. Mulai dari yang sepele seperti takut dia dipelihara oleh orang lain, sampai yang lebih parah: dia mati karena infeksi.

Kenangan-kenangan itu seolah diputar kembali. Saat gue pertama kali bertemu dengannya, saat gue mendapat cakaran pertama, dan saat dia menjilat tangan gue ketika diberi makan. Selama 6 tahun ini dia selalu setia menemani gue dalam melewati berbagai warna-warni kehidupan.

Baca Juga: Sepi

Hal ini berdampak pada hubungan asmara gue. Ketika ditanya kenapa, gue cuma bisa menyembunyikan yang gue rasa dalam sebuah jawaban, “aku gapapa.” Yang gue ucap dengan tatapan kosong. Bila terus dicecar oleh berbagai pertanyaan, gue langsung naik darah. Alangkah beruntungnya gue punya cewek yang seperti dia. Begitu memahami meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Puncaknya adalah ketika gue mutusi dia tanpa alasan.

Ini buruk. Sudah kehilangan sahabat, dan sekarang putus dari pacar cuma karena lagi nggak mau diganggu. Sejak kehilangan dia (Tendo), gue jadi nggak punya tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah.

Enam bulan setelah usaha pencarian dilakukan, tetangga gue, Arif, mengatakan kalau dia melihat Tendo di rumah sakit. Mungkin inilah waktunya bagi gue untuk menjemput dan membawanya kembali ke rumah. Gue pengen ceritain ke dia, kalo Cica, udah dibuang. Persis seperti dugaan gue sebelumnya, adik gue nggak bakal mau membersihkan tahinya.

Lorong demi lorong di rumah sakit gue telusuri. Dari ruang Anggrek sampai ruang Kamboja gue terobos. Tetap aja, gue nggak nemuin dia. Begitu pun disekitaran rumah sakit. Pencarian tersebut tak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada, gue malah keliatan kayak orang bodoh.

Lorong Demi Lorong Sumber: date14.blogspot.com
Lorong Demi Lorong
Sumber: date14.blogspot.com

Terkadang manusia sulit untuk dipercaya. Ketika manusia tak lagi dapat dipercaya, dia hadir, dan mau mendengarkan segala keluh kesah gue. Biarpun dia nggak ngerti apa yang gue omongin atau bahkan sebaliknya, paling nggak gue percaya, bahwa dia tak akan mengkhianati tuan sekaligus sahabatnya.

Dari pengalaman ini gue belajar dan percaya kalau: Orang yang lagi patah hati kadang kelihatan seperti orang bodoh. Kadang seperti orang gila, sebab orang yang lagi patah hati telah kehilangan separuh dari bagian jiwanya. Secara tidak sadar, patah hati, mengubah kita jadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.

***

“Tulisan ini diikutsertakan Giveaway -Pameran Patah Hati-”



19 COMMENTS

  1. Sip.. Sepakat saya, manusia memang sulit dipercaya dan kalo sedang sakit hati memang seperti orang bodoh. Gak semua juga sih.. Tapi banyak yang begitu, dan saya termasuk didalamnya. Hehe

    Salam hangat dari Bondowoso..

  2. wahahaha, patah hatinya disponsori oleh anak kucing toh. namanya juga patah hati, saran tetangga pun pasti ditanggapi serius. mungkin memang benar kata pengemis cintam orang yang patah hati IQ nya berkurang. tapi ini masih nggak semiris kisah raditya dika, yang kucingnya mati :”)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.