Memaknai Perlombaan 17 Agustus

Memaknai Perlombaan 17 Agustus – Sejak hari Sabtu kemarin, seluruh kelas yang ada berlomba-lomba dalam mendekorasi ruangan kelasnya masing-masing. Ada yang meng-cat ulang kelasnya supaya terlihat baru, dan ada juga yang sekedar merapihkan kelas dengan sedikit penambahan pernak-pernik yang berhubungan dengan hari kemerdekaan.

Senin kemarin sekolah gue ngadain yang namanya Upacara 17-an. Gue rasa seluruh sekolah maupun pemerintahan pasti ngadain upacara memperingati hari kemerdekaan negara yang kita cintai ini, Indonesia.

Masing-masing kelas harus menyumbangkan setidaknya dua orang sebagai icon di kelas. Icon itu harus berdandan atau bercosplay seperti seorang pahlawan. Dari seluruh icon kelas yang ada, gue paling ngakak ngelihat icon dari kelas XII IPS 4, yang bercosplay seperti seorang tentara pada masa penjajahan. Kalau aja ada lomba icon kelas, gue rasa icon dari kelas XII IPS 4 inilah yang akan menjadi pemenangnya. Bagaimana tidak, icon mereka begitu totalitas sekali saat bercosplay seperti seorang tentara. Selain itu, lucunya juga dapat.

Sayang sekali waktu itu gue kelupaan bawa hp. Kalau saja gue bawa, mungkin gue bakal ngajak icon kelas XII IPS 4 itu untuk berfoto. Tapi pagi itu gue terburu-buru banget. Tidak sempat membawa hp. Tapi tidak apa. Yang penting gue tidak terlambat upacara. Upacara 17 Agustus ini cuman diadakan setahun sekali. Sayang rasanya kalau gue melewatkan moment yang berharga ini demi sebuah hp.

Tidak bawa hp juga tidak masalah. Yang terpenting adalah ikut dalam upacara 17 Agustus itu sendiri. Upacara yang cukup langkah.

Ada begitu banyak sekali perlombaan yang diadakan pada hari itu. Mulai dari lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, lomba futsal dengan mengenakan daster (yang ini ngakak banget ngelihat para pelajar laki-laki bermain futsal menggunakan daster dengan bulu-bulu kaki yang sesekali terbang tertiup angin melalui celah-celah daster yang mereka gunakan), lomba balap sarung, joget balon, dan masih banyak lomba lainnya.

Lomba futsal pakai daster ini dibagi menjadi dua tim setiap angkatannya. Dua tim dari perwakilan jurusan IPS kelas XII, dua tim dari perwakilan jurusan IPA kelas XII. Dua tim dari jurusan IPA kelas XI, dan begitu seterusnya.

Gue sama sekali tidak ikut dalam perlombaan yang diadakan sekolah. Karena menurut gue lomba-lomba yang ada sudah terlalu mainstream. Semua lomba-lomba yang diadakan sama sekolah, sudah pernah gue ikuti. Baik ditingkat RT maupun tingkat sekolah. Gue penginnya ada sedikit perubahan dari lomba 17 Agustus itu. Gue butuh sesuatu yang anti-mainstream. Seperti lomba lari dari kenyataan, lomba makan hati, lomba tarik-ulur hubungan, dan lomba lama-lamaan menatap foto mantan.

Jadi nanti lombanya itu para peserta harus lari dari kenyataan hidup. Lalu lomba makan hati bersama pasangan (kalau ada) dan mantan (kalau ada juga). Lalu yang terakhir lomba lama-lamaan menatap foto mantan. Peserta yang mampu menatap foto mantannya selama mungkin tanpa timbulnya perasaan, maka ia dinyatakan sebagai pemenang.

Lalu ada beberapa saran lomba anti-mainstream dari sobat Juki yang juga tidak kalah serunya.

Seperti lomba balap karung sambil gigit sendok yang ada kelerengnya. Finish di ujung pinang dengan hadiah kerupuk yang digantung di pucuk pinang.

Makna-Lomba-17-Agustus-2
Sumber: Lihat di gambar

Lomba ini gue rasa cukup antimainstream. Belum pernah ada orang-orang yang ngadain lomba seperti ini. Kalau aja kemarin gue tidak disibukkan sama tugas, pasti gue kasih saran ini ke Pak RT.

“Pak, ada lomba 17-an yang keren banget! Bapak harus ngadain lomba ini pak!” dengan begitu paniknya takut-takut kalau keduluan sama RT sebelah.

“Lomba apa itu Za?” tanya pak RT.

“Lomba ini pak.” sambil nunjukin twit dari sobat Juki. “Lomba balap karung sambil gigit sendok yang ada kelerengnya. Finish di ujung pinang dengan hadiah kerupuk yang di gantung di pucuk pinang!”

“…”

Gue yakin Pak RT pasti mau menerimanya! Iya. Cukup gila kalau ada Pak RT setuju dengan saran dari sobat Juki yang Huwalah ini!

Lalu ada lagi saran lomba yang tidak kalah serunya. Yaitu lomba makan kerupuk. Kerupuknya ditaruh di lantai, pesertanya digantung.

Makna-Lomba-17-Agustus-3
Sumber: Lihat di gambar

Lomba ini kalau diadakan sama sekolah atau RT gue, pasti menjadi lomba yang paling diminati. Kapan lagi makan gratis! Kalau anak kostan pasti akan ngelakuin hal ini: mencampur kerupuk sama nasi dan juga kecap.

Lalu lomba matiin lilin pake hidung. Khususnya pake upil!

Makna-Lomba-17-Agustus-4
Sumber: Lihat di gambar

Lomba yang satu ini cukup sulit untuk dilakuin sebenarnya. Gimana caranya matiin lilin pake upil coba?! Kalau lagi pilek sih masih mending. Karena ada bersifat basah. Lah, kalau upil?

Lalu lomba melototin patung pancoran sampe patungnya bisa ngupil. Yang ini gue rasa cukup sulit. Karena tidak mungkin patung bisa ngupil. TIDAK MUNGKIN!!!

Sumber: Lihat di gambar
Sumber: Lihat di gambar

Tahun ini kayaknya lomba-lomba tersebut tidak bisa diterapkan di sekolah gue maupun RT. Karena perlombaan 17 Agustus telah telah usai. Semoga tahun depan lomba-lomba dari idenya sobat Juki bisa diterapkan baik ditingkat RT maupun tingkat sekolah!

Tapi tidak sampai disitu. Ada juga lomba yang cukup bergengsi disekolah gue. Seperti lomba dekorasi kelas dan juga lomba melukis tempat sampah. Untuk lomba dekorasi kelas gue sama sekali tidak tahu siapa yang menjadi pemenangnya. Karena waktu hari itu setelah puas ketawa-ketiwi ngelihat lomba balap sarung dan futsal, gue langsung pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, gue langsung berkutat di depan laptop mengumpulkan ide untuk tugas design sebuah logo. Proses pengumpulan ide ini cukup sulit ternyata. Gue pengin hasilnya maksimal. Maka gue perlu inspirasi lebih supaya bisa gue wujudkan ke dalam bentuk visual.

Inilah makna lomba 17 Agustus. Kita mungkin tenggelam di dalam keseruan lomba-lomba itu. Tanpa kita sadari, ada makna dan hikmah dari setiap perlombaan yang ada.

Dari seluruh perlombaan yang ada, gue jadi tahu betapa susahnya mencapai hal yang di cita-citakan. Seperti makan kerupuk. Makan kerupuk yang dikebat oleh tali rafia itu rasanya cukup sulit. Lalu lomba tarik tambang. Mungkin kelihatannya mudah karena hanya perlu tenaga. Tapi dibalik perlombaan tarik tambang itu, selain tenaga, perlu adanya kerjasama antar kelompok. Sebesar apapun tenaga suatu kelompok kalau tidak mampu bekerjasama maka hasilnya tidak akan maksimal.

Para pahlawan dulu juga seperti itu. Mereka saling bekerjasama demi menggapai sebuah tujuan. Merdeka! Seluruh tenaga, harta, jiwa dan raga pun mereka korbankan demi sebuah kemerdekaan.

Jadi… sudahkah kita merdeka secara utuh?

4 COMMENTS

  1. *tepuktangan*
    Iya, aku merasa… Kok jadi bosen sendiri tiap tahun lombanya ituuuu terus. Jadi yang tuhun kemarin ikutan terus juara 1 kan pasti optimis lagi mau ikutan. Kasian sama orang yang nggak menang waktu tahun kemarin. Eh, nyambung nggak?
    Btw, itu yang Juki… Gila! Anti-mainstream banget! W jadi ngebayangin sendiri kalo ada yang ngadain lomba kayak gitu. Eh iya, kenapa nggak u aja yang ngadain lombanya? Ajakin yang lain jadi panitia. x))

Tinggalkan Komentar

Setelah berkunjung, yuk jangan lupa untuk ninggalin jejak dengan cara meninggalkan komentar kalian di kolom yang sudah gue sediakan! Oya, kalian juga boleh ajak sanak, gebetan atau bahkan keluarga buat main-main ke blog gue. Pssst kalau kalian ada seorang kenalan cewek, bisa kali kenalin dia sama gue. Kali aja jodoh :p Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.