Pagi itu suasana kelas sedang ramai-ramainya. Keramaian kelas gue pada pagi itu sudah bisa menyaingi sebuah departement store yang sedang ngadain diskon besar-besaran.

Ternyata keramaian kelas pada pagi itu di picu karena ada sebuah tugas Bahasa Inggris minggu lalu yang hari ini akan di periksa sama wali kelas kami. Karena gak sadar ada tugas, dan dengan mata 5 watt-masih setengah mengantuk-, saat tiba di kelas, gue meletakan tas di atas meja, dan melanjutkan kembali tidur gue yang terpotong dengan kegiatan yang gak berguna.

Mandi, siap-siap dan perjalanan ke sekolah. Eh bentar-bentar, mandi termasuk bermanfaat karena kalau gak mandi kadar kegantengan gue bisa berkurang. Siap-siap juga berguna. Perjalanan juga berguna karena kalau gak ada perjalanan, maka gue akan disitu-disitu aja. Jadi sebenarnya yang gak berguna adalah kegiatan tidur gue di dalam ke… sudah, lupakan saja.

Baca Juga: Teman

Tiba-tiba ada seseorang yang menoyor kepala gue, dia adalah Iqbal. “Kamu udah tugas Bahasa Inggris, Za?”

Dengan setengah mengantuk, gue jawab, “Belum,” biar gak digangguin lagi.

Sebelum gue jawab “belum,” Iqbal udah pergi duluan. Waktu mau melanjutkan tidur, seketika gue terbangun dengan panik, “Lho!? Bahasa Inggris ada tugas!?”

Gue ngambil buku yang ada di dalam tas dan bergegas menuju ke tempat yang ramai -tempat yang PR-nya lagi di contek-in- karena udah gak ada waktu lagi.

“Woi, tengok bahasa inggris dong,” kata Iqbal.

“Bentar, aku belum selesai, nih” kata Handhika.

“Dhik, lihat dong.” kata gue, narik buku tulis Handhika.

“Eeeepp. Apa itu?” ucap seorang bersuara wanita dari luar kelas.

Perhatian buyar dengan seketika begitu mendengar suara wanita itu. Siapa sih sebenarnya wanita itu? Sampai-sampai bisa membuyarkan perhatian anak-anak kelas. Kerumunan yang tadinya ramai kayak pasar, mendadak pecah dengan kepanikan layaknya pedagang kaki lima yang ngelihat Satpol PP. Kebayang kan gimana pecahnya kerumunan yang ramai tadi? Nah begitu lah kira-kira gambarannya.

[divider]

Kami disuruh berbaris di depan tiang bendera karena gak bikin PR. Yang menjadi hukuman kami waktu itu adalah di jemur sambil menghormati bendera. Setelah setengah jam di jemur, wali kelas menghampiri kami dan disuruh berbaris kembali di tempat yang teduh.

“Mau jadi apa kalian kalau begini terus? Kalian mau orang tuanya ibu panggil?” kata wali kelas.

“Yah, jangan dong bu.”

“Trus gimana? Kalau cuman hormat bendera terlalu ringan.”

Kami semua masih menunduk. Wali kelas masih memikirkan hukuman yang tepat untuk kami berdelapan. Waktu itu yang gak sempat bikin PR ada delapan orang. Sisanya? Sisanya aman karena gak ketahuan sama wali kelas. Setelah wali kelas memikirkan hukuman tambahan yang tepat buat kami, akhirnya kami disuruh push-up sebanyak 20 kali. Dan push-up itu harus benar.

Pushup

Push-up bukanlah hukuman yang berat. Tapi buat gue, push-up sebanyak 20 kali itu udah berat sekali. Waktu push-up gue udah tumbang duluan di hitungan ke-10. Dan gak kuat lagi untuk melanjutkan kembali.

“Kamu ini laki-laki atau perempuan? Masa push-up aja gak bisa.”

Semua teman-teman melihat ke arah gue.

Jujur, waktu itu gue benar-benar gak kuat kalau disuruh push-up. Apalagi badan benar-benar harus turun. Wali kelas kembali menyuruh gue untuk melanjutkan push-up. Gue memohon sama wali kelas karena udah gak kuat lagi untuk push-up. Dan keputusan wali kelas waktu itu adalah, memanggil orang tua gue. Gue terus memohon sama wali kelas supaya gak di panggil.

Apa jawaban wali kelas? Gak bisa. Kalau gak mau di panggil, harus push-up. Dan hitungannya di ulang kembali dari 0 karena gue tadi berhenti. Tangan gemetaran karena gak kuat lagi untuk push-up, akhirnya teman-teman membela gue.

“Jangan gitu dong bu. Lihat, Reza udah gak kuat lagi tangannya. Mungkin memang dia lemah di push-up, tapi di bidang lain kita gak tau kan? Mungkin di bidang lain dia kuat.”

“Kamu mau menggantikan Reza?” tanya wali kelas.

“Gak bu. Gak jadi.” lalu mundur.

“Kalau ada yang mau menggantikan Reza silahkan. Boleh-boleh aja.” ucap wali kelas dengan maksud menguji.

Secara spontan, Tom maju ke depan dan langsung mengambil posisi. “Aku siap, Bu.”

“Kamu Tom? Kamu yakin?”

“Yakin dengan seyakin-yakinnya.” ucap Tom, mantap.

Gue terkejut. Tom yang biasanya ngejailin gue di kelas, justru dia yang membela gue sewaktu dihukum. Dia waktu itu bagaikan pahlawan yang membela gue. Dia menggantikan push-up sebanyak 20 kali untuk gue. Dari situ, gue menemukan sosok teman sejati seperti Tom. Pas gue tanya, kenapa dia mau menggatikan hukuman gue, dia menjawab, “Aku memang lagi pengen gedein otot aja.” kata dia. Ternyata Tom Tsundere juga ya. Hahahaha.

Baca Juga: Dijahilin Teman Sebangku

Ucapannya itu gue artikan sebagai “Gak perlu alasan apapun untuk menolong seseorang, kan?” Tom, makasih banyak. Kalau bukan karena lo, mungkin orang tua gue udah berususan sama wali kelas.

Hukuman tadi menjadi sebuah ujian untuk kekompakan kami. Dan terbukti, walaupun beberapa ada yang mundur ketika ditanya, “Mau menggantikan Reza?”, tapi ada sosok pahlawan yang mau menggantikan hukuman gue. Dan itu, udah termasuk kompak buat gue. Tom, makasih banyak.

Lalu setelah Tom menggantikan gue, wali kelas langsung memberikan tepuk tangan. “Bagus, ternyata kalian kompak. Ibu suka.”

Ternyata ini semua hanyalah uji kekompakan! Yah… tapi gapapa deh. Karena waktu itu juga gue tau kalau Tom memang orangnya baik dan setia pada kawannya.

To be continue…

8 KOMENTAR

    • Hehehe, gue awalnya cemas karena terancam di panggil orang tua. Padahal belum juga 3 bulan sekolah, udah di panggil aja XD
      Dan rupanya cuman uji kekompakan wkwkwkwk

BERIKAN PENDAPAT ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.