Jumat, 24 September 2021
HomeCurhatPengalaman Mendapatkan Pekerjaan Pertama Setelah Lulus

Pengalaman Mendapatkan Pekerjaan Pertama Setelah Lulus

on

Halo semuanya! Senang bisa berjumpa kalian di blog ini. Gimana kabarnya? Semoga kalian sehat-sehat saja, ya! Seperti yang terdapat pada judulnya, pada postingan kali ini gue ingin membagikan pengalaman mendapatkan pekerjaan pertama setelah lulus.

Sedikit flashback, pada postingan yang berjudul Kilas Balik 2020, gue sempat menceritakan apa saja yang sudah gue lalui di tahun tersebut. Salah satunya bagaimana kesulitan yang gue hadapi ketika mencari kerja.

Kalian pasti penasaran, bukan? Tanpa perlu berbasa-basi lagi, kita mulai saja, yuk. Begini ceritanya!

Bagi seorang fresh graduate, mencari pekerjaan pertama merupakan momen yang paling dinanti dan sangat berharga karena biasanya pengalaman pertama itu sulit untuk dilupakan.

Buat gue, mencari pekerjaan pertama sama seperti memasuki babak baru dalam kehidupan. Sebuah proses menuju dewasa karena di fase ini mulai mengenal dan mulai membayar perpajakan dan juga jaminan kesehatan.

Berbekal pengalaman magang selama setahun di Grup Bank Mandiri, gue melamar pekerjaan dengan rasa percaya diri yang cukup. Gue mencoba pelbagai platform pencari kerja. Menjejali pelbagai halaman karir perusahaan. Mencoba melamar ke perusahaan tempat teman gue bekerja, bahkan sampai mencari pekerjaan melalui media sosial

Akan tetapi, punya pengalaman saja tidak cukup untuk melancarkan gue dalam proses melamar pekerjaan. Ada satu faktor yang turut menjadi penentu, persaingan antara pelamar.

Ya, persaingan ketika situasi sedang normal tentu saja berbeda dengan persaingan ketika menghadapi pandemi. Ketika menghadapi pandemi, persaingan mencari kerja tidak hanya berlangsung antara gue dengan kawan sesama lulusan baru. Persaingan juga terjadi diantara orang yang sudah memiliki pengalaman kerja lebih dari setahun.

Gue pun kerap menerima penolakan. Pada bulan Oktober hingga November kemarin, akhirnya gue mendapatkan kesempatan untuk interview di 2 startup ternama, yang memang gue suka banget sama product dan sektor bisnisnya.

Setelah mengikuti sesi interview bersama user, gue diberitahu bahwa lamaran gue tidak bisa dilanjutkan. Mungkin karena usernya tidak menemukan kecocokan atau memang guenya yang nggak cocok dengan culture perusahaannya, sehingga gue tidak bisa bergabung di perusahaan tersebut.

Tapi tidak apa, setidaknya gue sempat memamerkan mahakarya gue ke usernya yang menempati posisi sebagai Chief Technology Officer (CTO) perusahaan tersebut. Dari penolakan tersebut gue jadi belajar untuk ikhlas dan semakin tertantang untuk mempelajari bidang lain. Seperti pemrograman, digital marketing, dan juga memasak.

Belajar Pemrograman
Belajar hal baru yaitu pemrograman web
sumber gambar: pixabay.com

Ya, itu lah realita dalam mencari kerja di masa seperti sekarang ini. Tapi tidak apa. Gue jadi belajar bersabar dan mengontrol ekspektasi.

Tahun baru, tentu saja muncul harapan baru. Gue semakin bersemangat untuk mengirim lamaran pekerjaan. Berbekal Javascript dan juga sedikit pemahaman tentang React JS, gue dengan nekat mengirim lamaran untuk posisi Front End Developer di beberapa perusahaan.

Akan tetapi, gue masih menerima penolakan ketika itu. Kecewa? Pastinya. Tapi gue tetap bersemangat mengirimkan lamaran, tetap semangat untuk terus belajar.

Pada minggu terakhir bulan Januari, gue mendapatkan sebuah direct messages dari seorang HRD. Awalnya gue ragu untuk membalas pesan tersebut karena sudah sangat malam. Namun, karena gue tidak ingin menghilangkan kesempatan itu, gue memutuskan untuk membalas pesan tersebut.

Setelah berbincang-bincang melalui Direct Message media sosial, HRD tersebut mengundang gue untuk interview bersama user yang dijadwalkan untuk esok hari. Senang? Tentu saja! Rezeki datang begitu saja di momen dan tempat yang tidak gue sangka.

Esok harinya, sekitar jam 1 siang, gue sudah berpakaian rapih karena interviewnya dijadwalkan sekitar jam 2 siang. Sembari menunggu jam 2, gue memutar musik lofi untuk menenangkan pikiran dan otot.

Sebagai informasi, saat itu gue interview untuk posisi yang sama dengan posisi ketika gue magang kemarin, yaitu Technical Writer. Selama interview berlangsung, gue banyak tersenyum dan tertawa karena usernya sangat friendly. Interviewnya pun jauh dari kesan formal.

Interview Online
Interview Online
Photo by: Kampus Production from Pexels

“Dia lucu ya, Pi,” kata usernya kepada HRD yang juga bergabung dalam interview tersebut.

“Iya, Pak.”

“Saya suka, nih.” kata usernya.

Selesai interview, gue menerima email dari HRD yang berisi form pendaftaran dan instruksi untuk mengerjakan Technical Test. Bersama dengan email tersebut juga terdapat dua file Psikotest yang harus gue kerjakan.

Karena interviewnya Jumat siang, gue diberi waktu 3 hari untuk mengerjakan test tersebut.

Senin paginya, gue langsung men-submit semuanya ke HRD. Keesokan harinya, gue diberitahu bahwa gue dijadwalkan untuk mengikuti sesi interview terakhir bersama direktur perusahaan tersebut.

Jujur, gue merasa kaget ketika diberitahu soal itu karena ini adalah pertama kalinya gue sampai ke tahap interview direktur. Sebelumnya gue selalu berakhir di Interview User.

Paginya, sekitar jam 8, gue menerima pesan Whatsapp dari nomor tak dikenal. Setelah gue baca, rupanya itu adalah direktur dari perusahaan tempat gue melamar. Melalui pesan itu beliau memberitahu bahwa gue bisa join melalui link yang beliau kirim.

Berhubung gue sudah sangat siap, gue langsung mengklik tautan tersebut dan masuk room meeting. “halo Reza,” sapa beliau lebih dulu.

“Halo pak, selamat pagi,” balas gue sambil membetulkan kabel earphone.

“Pagi juga, sudah siap kan? Bisa kita mulai interviewnya?” tanya beliau.

“Sudah, pak.”

Interview tersebut berlangsung selama satu jam penuh. Selama satu jam tersebut, gue lebih banyak mendengarkan penuturan dari Bapak Direktur karena sesi interview yang sedang gue ikuti kali ini, sangat berbeda dari yang gue bayangkan.

Yang berbeda adalah, pada sesi ini tidak ada pertanyaan yang membuat gue harus berpikir cepat dan kritis. Tidak ada case yang harus dijawab dan tidak ada deck yang harus gue presentasikan.

Sesi interview ini, bisa dibilang momen untuk berkenalan dan bercakap langsung dengan Bapak Direkturnya. Selain berkenalan, sesi ini sekaligus menjadi tahap offering secara langsung di mana beliau memberitahukan benefit, komponen gaji, masa cuti dan bagaimana cara menghitung pajak penghasilan

“Gimana, Za?” tanya beliau di akhir sesi interview.

Gue yang saat itu lagi merasa senang, berusaha agar tetap terlihat cool. “Ya, pak, saya terima tawarannya.” Jawab gue, mantap.

“Oke, habis ini kamu akan dapat email berisi kontrak kerja. Kalau kamu setuju, kamu bisa tandatanganin kontrak itu.”

Setelah sesi wawancara tersebut, gue langsung menerima email dari HRD, persis seperti yang diucapkan beliau. Setelah membaca keseluruhan kontraknya, gue langsung membubuhi kontrak tersebut dengan tanda tangan digital.

Tanda Tangan Kontrak Kerja
Tanda Tangan Kontrak Kerja
Photo by: Pixabay from Pexels

Pada tanggal 1 Februari kemarin, gue resmi berstatus sebagai karyawan untuk posisi Technical Writer. Di perusahaan tersebut, gue di tempatkan di Divisi Product.

Di hari pertama gue masuk itu, gue langsung disambut secara online oleh semua karyawan yang bekerja di sana. Saat itu gue merasa senang, karena ini kali pertamanya gue disambut oleh 70an orang.

“Mas Reza, silakan perkenalkan diri,” kata moderator acara.

Gue langsung mengeluarkan template perkenalanan yang sering gue gunakan ketika mengenalkan diri ke orang baru. Saking templatenya, gue sampai hapal urutan setiap katanya.

Selesai perkenalan, selanjutnya masuk ke sesi icebreaking. Tebak kata! Permainannya seru, dan ada hadiahnya untuk jawaban tercepat.

Sesi selanjutnya adalah book sharing! Ini adalah part yang paling seru selain icebreaking. Pada sesi book sharing, akan ada dua orang yang mengulas poin atau nilai yang dia dapatkan ketika membaca buku tersebut.

Tak ingin melewatkan kesempatan itu, gue mencatat setiap hal yang menurut gue menarik dari ulasan tersebut. Entah itu kutipan atau poin yang dapat gue praktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah book sharing, acara tersebut diakhiri dengan sesi sharing dari direktur.

Pada sesi sharing ini, direktur membagikan pengalaman, ilmu atau hal menarik yang beliau dapatkan. Sama seperti book sharing, gue juga mencatat poin yang menurut gue menarik dari sesi ini.

Setelah sesi tersebut, semuanya kembali ke pekerjaannya masing-masing.

Sementara itu, karena ini hari pertama gue dan posisinya sedang WFH, gue langsung menghubungi atasan gue untuk menanyakan akses ke PC kantor. Lalu, atasan gue mencoba menghubungi bagian IT Support.

Setelah berkomunikasi, rupanya PC gue belum bisa digunakan karena masih disetting. Tidak ingin makan gaji buta di hari pertama, gue berinisiatif menanyakan apakah ada yang bisa gue bantu saat itu juga.

“Coba kamu buka email kantor dulu. Bisa, nggak?”

Setelah mendapatkan akses untuk email kantor, gue pun mencoba login ke email tersebut dan alangkah terkejutnya gue karena password dan emailnya tidak salah. “Nggak bisa dibuka, pak.” Kata gue, sambil melampirkan gambar.

“Kamu tunggu aja, ya. Nanti saya coba tanya Richard.”

Richard adalah bagian IT Support dan akhirnya menjadi teman gue. Kami bertemu saat onboarding dan gue cukup akrab dengan dia karena ketika PC gue bermasalah, dia lah orang yang akan gue hubungi untuk diminta pertolongan.

Setelah ngobrol dan nanya sana sini, hari itu gue masih belum bisa mengakses email kantor dan ujung-ujungnya di hari pertama gue itu, gue tidak bekerja sama sekali.

“Yaudah gapapa, nikmati aja.” kata atasan gue.

Demikian lah cerita gue tentang mendapatkan pekerjaan pertama. Ada banyak sekali lika-likunya, ya.

Buat teman-teman sekalian, khususnya yang baru saja lulus dari kuliah, kirim saja lamaran ke perusahaan yang kalian inginkan. Tidak masalah jika harus menghadapi penolakan. Catat, dengarkan dan perbaiki setiap kesalahan yang sudah kalian perbuat.

Lalu yang paling utama, jangan hanya mengandalkan satu platform saja. Sekarang ini ada banyak sekali platform yang bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan. Bahkan, gue mendapatkan pekerjaan pertama setelah lulus melalui media sosial. Terdengar mustahil bukan? Tapi begitu lah kenyataannya.

Sekian sharing gue di postingan kali ini. Semoga postingan ini bermanfaat dan jika kalian suka, jangan lupa untuk membagikan postingan ini ke media sosial atau ke teman-teman kalian yang sedang membutuhkan.

Kalau kalian punya pertanyaan atau ingin sharing, silakan bertanya atau tulis pengalaman kalian di kolom komentar. Butuh konsultasi atau ingin bertanya lebih lanjut? Silakan follow media sosial gue, lalu ketuk Direct Message.

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di sesi sharing selanjutnya~

STAY CONNECTED

Facebook || Instagram || Twitter

Business Inquiry: [email protected]

Hey, jangan pergi. Kamu perlu baca ini

10 KOMENTAR

  1. wah keren, dari programmer ke technical writer
    kayaknya emang ngeblog ini membawa berkah, menambah kemampuan survive hidup

    salam kenal mas
    saya juga punya background programmer dan menulis juga di banyak blog saya, saya bilang banyak karena emang ada 25 blog :D
    kerjaan utama saya sih saat ini masih berkutat sama PHP, JS, CSS, HTML; kalo projek pribadi pakai Flutter. mau nyobain React, Vue, Svelte dll, tapi masih belum sreg.

    • Salam kenal juga, mas. Waduh, banyak amat blognya.. repot nggak ngurus blog sebanyak itu? Saya yang satu blog aja suka bingung mau nulis apa xD
      Flutter menarik sih ya. Aku lagi tertarik belajar flutter, tapi belum nemu waktu untuk belajarnya itu xD

  2. Kayaknya kantornya seru ya mas :D. Tapi aku salut karena direkturnya ikutan interview di akhir. Dulu aku boro2 ketemu direktur, lah kantornya dia LBH sering di UK drpd indonesia hihihi.

    Aku pernah mikir, zaman ku dulu sebelum pandemi aja, susah nyari kerja. Apalagi skr di saat banyak company sedang ketatin ikat pinggang. Tapi memang rezeki ga kemana sih yaaa. Mau apapun kondisinya, kalo memang iu rezeki kita, pasti dapet :).

    Selamat ya mas kerjaan barunya ;)

    • Iya, seru banget mbak. Terus banyak anak mudanya juga, yang seumuran sama aku. Makanya aku enjoy banget kerja di sana :D
      Betul, pas lagi nggak pandemi aja persaingannya udah ketat. Apalagi pas pandemi gini, pasti lebih ketat lagi. Makasih ya mbak :D

  3. Sharing penmgalaman yang menarik. Teringat saat 25 tahun lalu menyebar aneka lamaran ke beberapa perusahaan. Setelah strategi lamaran berhasil, berikutnya menyiapkan strategi interview supaya diterima dan mampu bersaing dengan para kompetitor yang juga pintar dan berkualifikasi. Kreatifitas menjawab dan mampu menyajikan potensi apa yang kita miliki adalah bekal saat interview. Terima kasih sharingnya, Salam sehat dan selamat beraktifitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Sebelum kamu pergi, tinggalin komentar dulu, ya!
Setiap komentar yang kamu tinggalkan selalu aku baca dan itu sangat berarti untukku agar terus semangat dalam menulis. Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

580FansSuka
664PengikutMengikuti
913PengikutMengikuti

Belum Gaul Kalau Belum Baca