Mungkin Ini Yang Namanya Rejeki Anak Soleh

Pernah tidak kalian mengalami perselisihan pendapat sama orang tua? Pernah tidak ketika keinginan kalian berbeda dengan keinginan orang tua? Ketika kalian sudah memiliki target dan tujuan ke depannya ingin menjadi seperti apa, namun tiba-tiba keinginan kalian itu tidak di setujui atau bahkan tidak di dukung oleh orang tua. Malah orang tua yang menentukan jalan hidup kalian. Pernah tidak kalian mengalami hal yang seperti ini?

Gue pernah! Gue pernah ngalami hal yang di atas! Begini ceritanya…

Sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki cita-cita yang tinggi, pastinya gue udah punya target ke depannya ingin menjadi seperti apa. Setiap menjelang tidur, gue selalu menyempatkan waktu untuk memvisualisasikan masa depan gue. Membayangkan bagaimana gue di masa depan jika gue memilih jalan itu. Ya, cara ini terbukti cukup sukses meningkatkan rasa optimis dan percaya diri seseorang terhadap target yang ingin di capai.

Gue selalu menyempatkan waktu 15 menit untuk sekedar membayangkan ke depannya ingin jadi seperti apa, apa yang harus gue lakuin untuk bisa mencapai target itu dan bagaimana caranya supaya target itu tidak sekedar jadi wacana belaka saja. Dan tentunya untuk menunjang hal ini gue perlu menambah pengalaman dan juga memperluas networking. Satu-satunya cara adalah dengan kuliah.

Sebagai calon mahasiswa yang benar-benar niat pengin merantau ke Pulau Jawa dan keluar dari pulau tempat gue dibesarkan, Pulau Sumatera, gue ingin survive di pulau yang perekonomiannya lebih maju dan berkembangan dengan sangat pesat seperti di Kota Jakarta.

Sebagai orang minang yang nggak begitu asli minangnya (bokap dan nyokap lahir di Padang, sementara saat gue lahir malah hijrah ke Bengkulu), tak lengkap rasanya bila tidak menjadi anak rantau. Yang gue tahu, ada dua hal yang pasti orang minang lakuin supaya bisa maju. Berdagang. Orang minang identik sama yang namanya dagang dan yang kedua adalah merantau. Hal ini sudah gue buktikan sendiri ketika libur tahun lalu.

Baca Juga: Cerita Singkat, Libur Saat Puasa

Untuk bisa sukses, perlu yang namanya keluar dari zona nyaman. Seperti itu juga orang minang (Padang). Orang minang akan ngelakuin keduanya (merantau dan berdagang) ke kota besar. Pas gue di ajakin dagang sama abang sepupu gue, ternyata mayoritas yang berdagang di sana adalah orang-orang minang.

“Teman-teman abang di sini orang padang semua ya?” tanya gue dengan polosnya.

“Iya za. Di sini mayoritas yang dagang adalah orang kita.” balas abang gue, berbahasa Indonesia karena menyesuaikan daerah tempat ia berdagang.

Gue ingin seperti itu juga! Keluar dari zona nyaman gue selama ini. Maka dengan semangat untuk maju serta didorongkan oleh darah minang, gue meneriakan keinginan gue itu ketika sedang rapat keluarga.

“Ma, Pa, abang mau kuliah di Jakarta!” kata gue. Dengan tangan mengepal dan semangat yang berapi-api, gue menyuarakan keinginan gue itu. Merantau dan keluar dari zona nyaman serta melawan arus.

“Nggak bisa bang, abang harus kuliah di sini,” kata nyokap, dengan mata nanar. Seolah tidak percaya bahwa anaknya ini sanggup bertahan di kota besar.

“Nggak, Ma. Nggak bisa begitu!” kata gue. “Abang bosan di sini. Kalau abang di sini, bisa-bisa abang nggak akan berkembang! Seperti katak dalam tempurung jadinya!”

“Jangan takabur, bang. Nggak ada jaminan kalau abang kuliah di luar nanti abang bisa sukses. Bisa aja pas kuliah nanti abang nggak sanggup lagi, trus ujung-ujungnya balik juga ke Bengkulu.” Bokap berada di pihak nyokap. Dua lawan satu.

“Abang sudah memikirkan resiko itu, Ma, Pa. Namanya juga hidup. Kalau tidak berani mengambil resiko besar, maka tidak akan ada hal besar yang akan terjadi.” kata-kata bijak seperti itu terucap dari bibir gue. Terinspirasi dari sebuah quotes di Twitter. Asoy.

Bokap dan nyokap tetap bersikeras melarang gue kuliah di jawa. “Kalau abang benar-benar mau kuliah, boleh. Tapi kuliahnya di sini aja.” kata bokap.

Dan ide gila datang dari nyokap gue. “Abang ikut tes polisi aja.”

“Buset! Badan kecil gini di suruh tes polisi? Mana bisa ma :( kalau badan sekecil ini boleh ikut tes polisi, abang mau deh ikut tes. Tapi kembali lagi tujuan abang beda dengan keinginan mama. Maaf ya ma :(“

Keinginan gue bertentangan sama keinginan orang tua. Emang sih tujuan bokap sama nyokap gue baik. Tapi kalau yang namanya udah niat dan udah punya target, apapun pasti akan dilakuin. Lagian, yang menjalani hidup kan gue sendiri, gue yang menentukan masa depan gue sendiri, bukan orang tua.

Lagian sudah banyak contoh orang yang salah dalam memilih jurusan. Ketika si A minatnya di jurusan Seni namun orang tuanya nyuruh masuk jurusan kedokteran, otomatis yang terjadi kuliah si A akan jadi kacau balau karena tidak sesuai dengan minatnya. Ilmu yang di dapat belum tentu bisa di serap dengan baik oleh si A. Bagus kalau bisa di serap, kalau nggak bisa di serap gimana? Sayang dong uangnya :(

Biarkan anak yang memilih jalan hidupnya sendiri dan yang perlu orang tua lakuin demi keberhasilan anaknya adalah dengan cara mendukung dan mengikuti pilihan si anak. Orang tua juga boleh mengarahkan masa depan anak, tapi tetap tidak boleh memaksakan si anak. Cukup mengarahkan dan memberikan pilihan saja.

Karena orang tua belum percaya dengan keseriusan gue yang ingin merantau dan kuliah di luar, maka yang perlu gue lakuin supaya orang tua percaya adalah: Membutikan bahwa gue sungguh-sungguh serius!

Gue terus melakukan pendekatan sama orang tua. Baik itu nyokap, maupun bokap ketika mereka sedang punya waktu luang untuk di ajak ngobrol. Yang paling sulit di ajak ngobrol sebenarnya adalah bokap. Karena bokap sibuk bekerja. Sementara nyokap terlalu gampang percaya dengan omongan tetangga yang mengatakan bahwa jurusan yang gue ambil sama sekali tidak bermutu.

“Kata bu Soleh, jurusan yang abang ambil sama sekali nggak bagus. Nggak bermutu katanya.” kata nyokap memecah keasikan gue yang tengah asik dengerin lagu Maroon 5.

“Apa? Nggak bermutu katanya? Ma, percayalah sama abang. Jangan mau dipengaruhi sama orang lain. Abang sudah mempertimbangkannya. Kita itu berpikir untuk masa depan, bukan untuk masa sekarang. Apalagi cuman cari aman. Abang nggak mau jadi pegawai negeri seperti yang Mama inginkan, abang nggak mau, Ma.” gue berusaha meyakinkan nyokap.

Pendekatan itu terus gue lakukan supaya bokap sama nyokap benar-benar percaya sama pilihan gue. Kalau gue nggak mampu merebut hati orang tua, bagaimana masa depan gue nantinya? Mengingat gue ini adalah anak pertama, otomatis beban gue berat dong pastinya. Kalau bokap nggak sanggup lagi membiayai pendidikan adik gue, lalu siapa yang akan membiayainya? Tentu pendidikan adik gue jadi tanggung jawab gue juga. Apalagi gue seorang laki-laki. Mau di kasih makan apa anak orang nantinya? :(

Kabar bahagia datang pada tanggal 23 Agustus lalu. Bokap, tiba-tiba mengabarkan kepada gue bahwa universitas yang pengin gue masukin, ngadain tes beasiswa di Kota Bengkulu. Tepatnya di SMAK Sint. Carolus. Gue yang mendengarnya langsung excited. Karena kebetulan malam itu bokap sedang libur dan kami mau belanja kebutuhan bulanan, malam itu kami sekeluarga lewat di depan SMA Carolus. Perhatian gue langsung tertuju sama spanduk yang bertuliskan “Beasiswa UMN”. Karena malam dan kurang terang, besoknya gue ngajak bokap buat mampir ke SMA Carolus untuk lihat spanduk itu lagi.

“Kalau Abang benar-benar serius ingin kuliah di jawa, buktikan di sini. Buktikan dalam tes ini. Kalau abang berhasil, abang boleh kuliah di jawa dan bebas mau milih universitas swasta yang abang mau. Tapi kalau nggak berhasil, abang tetap boleh kuliah di jawa. Tapi hanya universitas negeri, nggak boleh swasta. Kalau abang nggak berhasil masuk universitas negeri di Jawa, abang nggak boleh di kuliah di jawa. Kuliah di sini aja. Mengerti?”

“Mengerti, Pa!” begitu janji gue sama bokap.

Selain target, kita juga perlu berjanji pada diri sendiri. Tanpa target dan janji pada diri sendiri, mungkin impian itu tadi hanya akan jadi impian saja.

——————————————

Tanggal tes pun tiba. Seperti yang sudah gue bahas di postingan sebelumnya yang dapat kalian baca di sini, gue benar-benar tumbang di dalam tes itu. Gue belum ada persiapan. Mengingat tugas-tugas sekolah yang terus menumpuk, gue nggak ada waktu untuk persiapan tes. Pas tes, gue dihadapkan oleh soal-soal yang lebih sulit dari soal UN. Kebayang dong gimana susahnya soal UN? Nah, soal tesnya ini jauh lebih susah dari soal UN.

Jujur, gue udah pasrah banget waktu itu. Namanya juga tes beasiswa, wajar saja kalau sulit. Pada 30 menit terakhir, terjadilah percakapan antara gue dan batin gue sendiri. Kalau gagal dalam tes ini, masa depanmu juga akan gagal Za! Buktikan! Buktikan bahwa lo bisa!

Dalam 30 menit terakhir itu, gue mengucapkan bissmilah, dan langsung melingkari soal LJK tanpa melihat soal lagi. Bodo amat dah, lagian nanti masih ada tes reguler. Gue bisa ikut tes reguler. Setelah mengisi lembar jawaban, terjadi lagi percakapan dalam diri gue. “Kalau gagal dalam tes ini, apa bokap benar-benar serius melarang kuliah di universitas swasta di Jawa? Apalagi gue udah janji kalau gagal dalam tes ini nggak boleh kuliah di universitas swasta di Jawa. Cuman boleh di negeri.” lalu sisi yang satunya menjawab, “Boleh! Pasti boleh! Tidak mungkin orang tua membiarkan begitu saja cita-citanya tidak tercapai. Optimis saja! Pasti boleh!”

Benar juga kata sisi gue yang satunya. Gue harus berpikir positif. Optimis itu perlu!

Benar saja, ternyata bokap cuman bercanda soal nggak boleh kuliah di universitas swasta di Jawa :( Syukur deh, ternyata bokap cuman main-main :’) Usaha gue dalam merebut hati bokap ternyata berbuah manis. Bokap setuju dengan keinginan gue. Nyokap pun ikut setuju. Ternyata skenario ini sudah mereka atur sedemikian rupa agar gue benar-benar serius dalam tes sekaligus mental gue :’)

Kabar gembira datang pada tanggal 23 September kemarin. Hasil tes beasiswa UMN yang diadakan pada tanggal 31 Agustus kemarin, telah di umumkan! Hasilnya sudah dikirimkan ke setiap email peserta yang ikut dalam tes kemarin.

Surat Keputusan Penerimaan Mahasiswa Baru
Surat Keputusan Penerimaan Mahasiswa Baru UMN!

 

Akhirnya :')
Akhirnya :’)

Nggak sia-sia deh gue ikut tes kemarin. Meskipun ngasal, tapi berkat iringan doa, support dari orang tua dan keinginan untuk maju, gue sukses dalam tes ini! :’)

Emang ya, kekuatan doa itu besar sekali pengaruhnya. Dan mungkin ini yang dinamakan rejeki anak soleh :))

Berkat doa, gue bisa lulus dengan grade A. Grade A coy! Grade A \o/ Gue terharu banget ketika membaca hasilnya :’) satu masalah telah terselesaikan. Dan masih banyak masalah lain yang harus gue selesain seperti lulus dalam UN. Dan sepertinya cara yang gue terapkan dalam tes kemarin tidak bisa gue terapkan lagi dalam UN. Saatnya belajar, belajar dan belajar! Semangat! \o/



24 COMMENTS

  1. Hai Reza. Selamat ya! Semoga jadi titik awal dari langkah-langkah besar yang kelak bakal kamu tempuh di luar sana. Emang bener, kuliah itu urusan krusial. Pilih sesuai hati, kemampuan, bakat, keinginan plus budget kita. Cuma 4 tahun kuliah sih, tapi 4 tahun (atau lebih itu) bakal mempengaruhi jalan hidup di masa depan. :D

  2. Menurut aku sih, orangtua, sekeras apapun keinginan yang akan ia lakukan untuk anaknya, bakal dipertimbangin lagi sama perjuangan anaknya untuk mempertahankan apa yang akan inginkan. Orangtua pasti bakal ngeliat lagi, seberapa besar kamu pengen ngedapetin keinginan kamu. KAMU BERHASIL, ZA! AKU IRI. :’(
    Kaget tau, nggak. Pas aku baca ke bawah, kamu lulus beasiswa tes! Grade A, lagi! Rezeki banget. :’)
    Sistem Informasi UMN, tinggal berusaha menghadapi ujian aja, tuh. Langsung cus masuk aja, gitu? Uhuyyyyy~ turut berbahagia. Semoga aku juga bisa ngerasain seneng kayak kamu, Za. Aamiin.

    • Alhamdulillah yah Ris. Gue juga nggak nyangka bakal dapat beasiswa gini :’)
      Langsung cuss aja Ris karena udah di terima. Tapi tetap harus ikut un.
      Aamiin Ris! Semangat! Ayo mulai berjuang dari sekarang :))

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.